Sekeping Hati

Egita Pauline
cerpen indonesia

Ia memeluk tubuhku dari belakang, dan mulai menciumi rambut, kemudian ke batang leher, aku masih berdiri kaku, tidak melakukan apapun, tidak membalas apa yang sedang ia lakukan, ntah kenapa aku membiarkan ia melakukan hal tersebut, tiba-tiba aku merasa tubuhku sedikit bergetar berharap ia akan melepaskan pelukannya, tapi ia malah menempelkan wajahnya pada batang leherku sehingga mau tidak mau aku harus mengangkat sedikit leherku, dengan begini aku bisa merasakan wangi shaving foam yang ia gunakan. Ia semakin memperdalam pelukannya, seolah berkata “don’t worry I’m here!!!” Tanpa sadar aku menyandarkan tubuhku pada dada bidangnya, ikut membenamkan diriku pada pelukannya, yang tadinya tidak ingin aku lakukan dan samar-samar aku bisa mendengar deru jantungnya yang teratur, kuraih jemarinya yang sedari tadi menyilang dibawah dadaku lalu mengangkatnya dan menyematkan kelima jari-jariku diantara jemarinya. membiarkan ia meremas jemariku.

Ahhh….apa yang akan dikatakan Nanda jika ia melihat kelakuanku saat ini, apakah ia sadar saat ini ibunya tengah menjalin hubungan dengan orang yang lebih pantas menjadi kekasihnya dari pada kekasihku, apa yang akan dikatakan oleh staf-staf di kantor bila melihat adegan ini, tapi apakah aku harus peduli dengan itu semua? Apakah harusku buka lebar-lebar telingaku hanya untuk omongan yang bisa membuatku kehilangan apa yang paling kubutuhkan?

What?????? Kebutuhan?? Kebutuhan macam apa sebenarnya yang kuinginkan, aku adalah seorang manajer di salah satu perusahaan konsultan terkenal, bicara soal materi tidak mungkin aku kekurangan, tabunganku cukup untuk membiayai hidupku dan Nanda, membiayai penikahan Nandapun isi tabunganku masih sisa, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengkambing-hitamkan kebutuhan materi, so what…sex, hmmm..mungkin!!! apalagi setelah kepergian suamiku beberapa tahun lalu, aku hampir tidak pernah melakukan aktifitas yang satu ini, tapi,apa benar hal itu??

Ah rasanya tidak!! karena bersama lelaki ini aku tidak pernah melakukannya. Mungkin kami pernah pergi ke tempat yang sangat terbuka peluang untuk itu, tapi semuanya hanya berakhir dengan kissing and hug, tidak pernah berakhir di tempat tidur!

Semua bermula ketika perusahaan Suryo menjadi client penting kantorku, pertemuanku dengannya pun terbilang biasa-biasa saja, pertemuan antar client yang berlanjut dengan saling bertukar cerita melalui pesan singkat, perbincangan diawali dengan seputar benefit-benefit yang diterima perusaahan Suryo jika menggunakan jasa konsultan kantorku, lama kelamaan pesan pesan yang kuterima adalah pesan yang berisi perhatian-perhatian kecil, aku lupa siapa yang mengawali ini semua; apakah Suryo atau justru aku sendiri. Perhatian untuk mengingatkan makan siang, makan malam, dan sebagainya, sudah lama aku tidak merasakan perhatian seperti itu apa lagi dari seorang pria, tapi saat ini aku tidak mau bilang kalau perasaanku senang, lebih baik no comment. Mungkin karena aku tahu posisiku.

Suatu malam. Suryo mengundangku untuk candle light dinner karena ia berjanji akan menandatangani kontrak kerja dengan kantorku, maka undangannya kuterima, menggunakan gaun malam yang menurutku gaun yang paling aku suka, aku yakin Suryo akan takjub. Sebelum meninggalkan rumah aku melihat tatapan aneh Nanda, tapi segera ia menciumku dan berbisik. “take care mom.” Kubalas ciuman Nanda dengan mencium keningnya tersenyum dan “good girl” mengacak rambutnya, segera pergi. Aku sadar betul dengan kepercayaan yang diberikan Nanda, putriku yang sudah menginjak remaja. aku akan menjaga itu, batinku.

Suryo mengatakan akan menjemputku, tapi aku tidak mau Nanda berpikiran macam-macam, karena ini pertama kalinya clinetku menawarkan diri untuk pergi bersama pake acara menjemput pula, maka kamipun janjian di suatu tempat tidak jauh dari rumahku tapi tetap jauh dari tempat tidur Nanda! Tiba di sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah Menteng sikap Suryo bener-bener membuat aku mengacungkan kedua jempol. Paling bisa memperlakukan wanita sesuai keinginnya. jelas romantis, aku sempat berpikir kalau caranya seperti ini, tidak akan ada wanita yang berani menolak dia, atau wanita itu akan menyesal seumur hidup, Ia membukakan pintu mobil dan meraih jemariku menuntunku keluar dan membiarkan aku menggandeng tangannya wah…it’s so nice…tadi sebelumnya ia sempat melemparkan pujian betapa cantiknya aku dengan gaunku. What I say!!

Suasana yang tadinya romantis sedikit menjadi tidak menentu dengan sikap Suryo yang mulai meraih jemariku menciumnya dan “aku ingin kamu jadi orang yang special di hidupku.” Kutarik jemariku dan plak…ntah apa yang mendorongku melakukan tindakan itu, harusnya aku lebih bersabar, bukankah tadi aku sempat berpikir bahwa wanita yang menolak Suryo akan menyesal seumur hidup? Masa wanita itu aku? Ihh.. tapi aku kok justru.. oh my Godness!!! Aku berdiri meninggalkan meja setengah berlari keluar restoran menunggu taksi, pulang!!! Hah…apa yang baru saja aku lakukan??? Aku baru sadar sedari tadi tidak ada taksi yang lewat di jalan ini, kemana taksi seluruh Jakarta? Tin…tin….,huh aku bisa menduga itu Suryo dan ia berusaha memintaku untuk masuk kemobil, tapi hei…apa yang kulakukan aku justru pergi berjalan ke arah yang sama sekali tidak ku mengerti, beberapa saat aku masih bisa mendengar mobil Suryo mengikuti dari belakang. Tapi sebentar….di jalan ini aku sendiri, tidak ada kendaraan yang lewat pun orang yang lalulalang My God where I am???

Kucoba untuk terus melangkah tapi aku dicegat oleh sebuah tangan kekar yang aku tidak kenal. Ia tersenyum, jelek menurutku, aku berusaha melawan tapi tertahan oleh tangan lain, hah..ada 3 orang lelaki di sini, siapa mereka, apa yang mereka inginkan dariku? “Apa mau kalian?” teriakku, si Gendut menyeringai menunjukkan giginya yang jelek. “Kamu manis.” Ia menyolek daguku, Cuih…aku membuang ludah, mereka akan melakukan sesuatu padaku, sesuatu yang membuat aku ketakutan setengah mati, dan aku berteriak sekencang-kencangnya “Toolllllooongggggg!!!” Mereka serempak tertawa, “tidak ada yang dapat menolong kamu manis!” si Kurus menyeringai, masih tertawa. Aku masih sibuk meronta, sampai salah satu lengan gaun tersobek, ketakutan semakin dalam merajai diriku. Pikiran bahwa kali ini aku akan mati, trus Nanda akan bersama siapa? Siapa yang akan merawatnya mulai berputar-putar di kepalaku. Aku mulai menangis dan terus meronta…

Bukk, pukulan keras, itu pukulan keras tapi siapa?? Aku terduduk, kedua tanganku, menutup mataku. Seseorang menutup pundakku dengan sebuah jaket, dari wangi jaket ini aku tahu siapa pemiliknya. Suryo!, aku berdiri menengadahkan kepalaku dan benar saja. Ia membantuku berdiri, menarikku kepelukannya dan menepuk-nepuk punggungku. Aku baru menyadari kalau hidungnya berdarah, kutarik pasmina yang kupakai, kubersihkan darah itu, ia diam tersenyum, ia menyelamatkanku! “Maaf aku membuat kamu seperti ini.” Ia menggenggam tanganku, dan mengajak pergi, belum sempat kuucapkan terimakasih pada Suryo dan jaket hitamnya juga belum sempat kukembalikan.

Paska kejadian itu, aku sama sekali tidak ada kontak dengan Suryo, ia sendiri tidak pernah menghubungiku setelah itu. Mungkin masih tersinggung dengan perlakuanku di restoran. Sampai tiba-tiba bosku marah besar karena salah satu client membatalkan kontrak dan client ini adalah client paling potensial untuk kantorku. Perusahaan Artha Loka. Oh Tuhan itu perusahaan Suryo, kenapa ia batal menandatangani kontrak, kenapa ia tidak jadi kerjasama dengan kami, kenapa…

“Miranda, kamu yang harus bertanggung jawab untuk ini, saya tidak peduli bagaimana caranya Artha Loka harus menandatangi kontrak dengan kita. Lakukan apa saja!” aku mencoba menghubungi Suryo tapi yang kudapatkan adalah suara operator, usahaku gagal…”Saya tidak perlu alasan, terserah mau melakukan apa saja atau kamu akan di pindahkan ke divisi lain.” Si bos mulai lagi, tapi kali ini dengan ancaman yang lebih parah, dipindahkan ke divisi lain?? Hah….di pecat juga engga apa-apa bos gerutuku dalam hati. Tapi jiwa seorang yang bertanggung jawab tidak membiarkanku mengalah begitu saja, apalagi dengan Suryo. Di suatu pagi aku mendatangi kantornya, belum sampai di tempat yang kutuju, masih di lobby aku berpapasan dengan Suryo, dengan seorang wanita cantik di sampingnya, mereka terlihat mesra sekali dan cocok, mungkin mereka seumur, beda denganku.

Hei ngomong apa aku ini, aku kaget, Suryo apa lagi. Sejenak kami saling bertatap, “Hmmm..aku kesini untuk mencarimu.” Suaraku sedikit tersendak. Ia menatap wanita disebelahnya yang mungkin kekasihnya, adiknya atau siapalah, yang pasti bukan tantenya, membawanya agak menjauh dari tempat kami berdiri semula, berbicara sebentar dan menjabat tangan wanita itu kemudian kembali ke tempat aku menunggu, membawaku ke sebuah tempat, agak jauh dari kantornya, tapi dari tempat itu aku bebas melihat menara kantornya dan suasana Jakarta yang super padat dibawah sana dengan cuaca yang panasnya ampun-ampun. “Aku hanya ingin alasan.” Ungkapku. “Tidak ada alasan apa-apa, perusahaan hanya memilih perusahaan lain daripada kantor kamu.” Suaranya tenang. “Baik, tapi dimana kekurangan kantorku, kamu tidak professional, kalau kamu ingin membatalkan kontrak kamu harusnya berbicara denganku, bukan seperti ini.” Aku mulai meledak ledak. Marah!!! “Maaf tapi kenyataannya adalah kita sudah sign dengan orang lain.” “Kamu keterlaluan!!” aku pergi, tapi langkahku tercegat, ia menahannya dengan menarik lenganku dan aku berada di pelukannya, aku menikmati…aku merasakan kehangatan, kenyamanan, dan ketenangan, ntah kenapa…rasanya tidak ingin lepas dari pelukan ini, tidak ingin berjauhan dengan bau Hugo Bosh. Aku menarik tubuhku dari pelukannya, mata kami beradu, “kalau kamu ingin alasan, ini..” ia merogoh kantongnya dan meletakkan sebuah kunci di telapak tanganku, “kamu tahu dimana mencariku,” mengangkat daguku dan mengecup bibirku, pergi.

Aku menimang kunci tersebut, apa artinya semua ini, aku menatap langit dari jendela, SMS kembali masuk ke HPku, itu si bos, “Miranda sdh smpi dimn? Apa yg kamu lkk shnga lmbt skl laporanmu.” Kubiarkan begitu saja SMS itu, banyak pertimbangan di dalam hatiku, kalau aku dipecat sebenarnya tidak masalah, aku masih bisa menggunakan networking yang sudah aku bangun selama ini, pasti ada satu diantara sekian banyak temanku yang akan memberikan pekerjaan padaku, atau aku masih bisa pindah dan melamar ke perusahaan lain, jadi buat apa aku harus berjuang memohon kepada Suryo dan perusahaannya untuk kembali kekantorku, apalagi ia sudah tidak professional, mencampurkan adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, namun di sisi lain kalau aku dipecat, berarti kredibilitasku tercoreng, kalau aku mengundurkan diri akan memakan waktu lama untuk mencari pekerjaan dan itu pasti sangat membosankan, dan Nanda, anak itu tidak akan memiliki kebanggaan jika harus tinggal dengan ibu yang pengangguran. Ah….aku menelungkupkan kepalaku di atas meja.

Menatap kembali ke kunci yang diberikan Suryo, melirik jam di meja. 22.30, sudah malam sekali dan tidak sopan jika bertamu pada jam seperti ini dan ke apartemen seorang pria lagi but who care!! Kuraih jaketku, meninggalkan memo di sisi tempat tidur Nanda agar ketika bangun ia tidak kaget menyadari ibunya tidak dirumah, ia pasti mengerti, bukankah hal ini kerap terjadi jika tiba-tiba menerima telepon penting dari kantor dan harus berangkat saat itu juga, sekarang anggaplah itu yang terjadi. Kukecup kening Nanda “luve u” menutup pintu dan menstater mobil menuju sebuah apartemen mewah di Kkuningan. Di tempat parkir aku menelpon Suryo, aku ada di sini, di apartemennya. Yang kuterima sebuah jawaban singkat “you have a key, please come in!” ragu tapi kulangkahkan juga kakiku dan aku sudah berdiri persis di depan pintunya. Kutarik nafas panjang, apa yang akan ku lakukan di dalam sana?? Kumasukkan kunci ke lubangnya memutar dan ckreek…aku tahu pintu sudah terbuka, kubuka daunnya dan clingak-clinguk ke dalam, asing, begitulah kesanku dengan apartemen mewah ini. “Hei..”ia menyambutku, di tangan kanannya aku melihat sebotol minuman. “Maaf aku tidak akan berlama-lama.” Ujarku, “Udahlah mir, kenapa sih kamu masih memikirkan pekerjaan, saat bersamaku, harusnya kamu lebih santai, sini.” Ia menarikku mendekat ke arahnya, sekarang jarak yang memisahkan kami hampier tidak ada, aku begitu dekat dengannya. Hah..ha..aku tahu maksud dari pria ini sekarang, ia tengah mabuk kepayang, mabuk cinta, dan itu kepada ku wanita yang berusia 34 tahun dengan seorang putri yang sudah beranjak remaja. Ok, dan rasanya aku juga ingin terlibat langsung dalam drama ini, drama yang tidak pernah ada ujung pangkalnya. Kucium dia dengan hangat, setelah itu aku menarik diri dari pelukannya kubuka jaketku melemparkannya sembarang.

Dari tasku kuraih berlembar-lembar surat, itu surat kontrak yang harus ditandatangani Suryo. Ia tertawa, mengelilingiku tawa khasnya. “Mir..mir..buat apa sih semua ini.” Ia merampas surat tersebut dan merobeknya di depan mataku. Ia memutar tubuhku menatapku lekat, jujur aku suka dengan tatapan ini, sejak kapan? aku tidak tahu dan jangan tanyakan itu, dengan jari jemarinya ia menyibakkan rambut yang menghalangi tatapan, lalu menelusuri pipiku, ia menunduk mengangkat daguku dan mencium dengan hangat. Sesekali kubalas ciuman itu. And enough!!! Kutarik satu lagi lembaran-lembaran yang tadi sempat kucopy. Aku bangga dengan diriku sendiri yang terlalu pintar untuk ini. Dengan segala bujuk rayu Suryo mengalah dan menandatangani perjanjian itu, dan berhasil! Inilah yang kubilang dengan semua tidak pernah berakhir ditempat tidur. Everything bout kiss and hug. Enough!! Aku menang!!!! Aku tidak akan pindah divisi, Nanda tidak akan memiliki ibu pengangguran. Beberapa saat setelah semua selesai, aku benar-benar lost contact dengan Suryo sampai akhirnya sesuatu telah mempertemukan kami kembali dan berada di tempat ini, di tempat yang aku tidak tahu dimana, di tempat yang aku berani untuk menunjukkan siapa sebenarnya diriku, wanita yang sangat mencintai Suryo, mungkin dan sekali lagi Suryo mengencangkan pelukannya, kali ini menyandarkan dagunya di kepalaku dan bilang “mir..aku tidak ingin kehilangan kamu lagi!

Aku tersenyum miris dipeluk oleh pria yang jauh lebih muda dariku, pria yang mungkin lebih pantas menjadi kekasih anakku. Kalau ada kesempatan untuk bertanya mungkin aku hanya punya satu petanyaan yang kepada sang pencipta; salahkah yang kulakukan ini? Kubalas pelukan itu, mengelus tanganya yang kekar, berharap jangan sampai putriku tahu apa yang kulakukan malam ini, dan malam-malam berikutnya.
***

Satu Respons

  1. keliru skit sbb bhsa indon kn..okla cter ni..dr g

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: