Cerpen : Kembalinya cinta dalam kepergiannya

ibnu raz
Penulis dari indonesia

Jam belum lagi menunjukkan pukul enam pagi tapi langit sudah begitu terang. Warna birunya hanya sedikit dihiasi beberapa jumput awan tipis selaksana kapas-kapas yang diambil bagian ujung-ujungnya saja dari sebuah gumpalan besar kapas kosmetik. Langit betul-betul bersih pagi itu. Kicauan burung-burung yang hinggap di pohon-pohon rindang di kawasan perumahan di timur ibukota itu meningkahi hembusan angin semilir yang bertiup menerbangkan daun-daun kering berwarna kuning yang berserakan di pinggir-pinggir jalan. Titik-titik embun di pucuk-pucuk rumput jepang yang hijau masih tampak di bawah naungan bunga-bunga beragam warna yang mulai bermekaran di pekarangan yang tampak dirawat dengan rapi oleh sang pemilik yang sudah purnawirawan.

Pemandangan yang sama juga tampak di rumah yang berada di ujung jalan tak jauh dari rumah sang purnawirawan. Rumah bercat biru langit itu tampak begitu menjadi pusat keriangan sang pagi. Sesosok gadis dengan kerudung putih dan balutan pakaian training olahraga berwarna hijau muda tampak sedang melakukan gerakan-gerakan pemanasan di muka teras rumah. Sepatu kets berwarna putih berkali-kali kedua ujungnya disentuh bergantian oleh ujung jari kedua tangannya. Titik-titik peluh mulai bermunculan di dahi gadis itu.

Setelah dirasa cukup, gadis berparas ayu itu kemudian melangkah menuju pintu gerbang kecil bercat senada dengan bangunan rumah yang berada tepat di ujung jalur batu-batu bulat titian yang berjajar di depan teras.

“Bunda… Mio pergi lari pagi dulu ya”, serunya kepada seseorang di dalam.

Sayup-sayup terdengar dari arah dalam suara wanita paruh baya diselingi deringan telpon, “Ya nak… Hati-hati ya sayang.”

Gadis yang dipanggil “sayang” dan menyebut dirinya Mio itu kemudian membuka pintu kecil tadi ke arah dalam sedikit saja, hanya cukup untuk dirinya melewatinya dengan berjalan miring kemudian menutupnya kembali dari luar.

Membelok ke arah kiri, Mio kemudian mulai melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit semakin cepat hingga terlihat seperti setengah berlari. Rute jalan cepat yang dipilihnya seperti biasa, rute yang sama sejak sepuluh bulan sebelumnya, setelah membelok ke kiri dari muka rumahnya ia meneruskan langkahnya hingga ujung jalan yang terbagi dua tepat di sebuah danau buatan yang berada di tengah-tengah kawasan perumahan itu. Lalu dipilihnya jalan ke arah kanan yang menuju ke pintu gerbang utama lalu sesampainya di gerbang utama ia berbalik arah kembali ke arah danau namun memilih melalui jalan mengitar di pinggir danau untuk kembali ke persimpangan jalan tadi dan menyusuri kembali jalan yang sama untuk kembali ke rumahnya.

Pagi yang cerah ini ternyata juga membawa semangat pada lebih banyak penghuni perumahan itu. Di tengah perjalanannya beberapa kali namanya disebut oleh mereka yang berpapasan dengannya ataupun mereka yang sedang duduk-duduk di muka-muka rumah. Beberapa di antaranya mengucapkan selamat atas pencapaiannya seminggu sebelumnya di perlombaan tari modern yang diadakan perumahan itu untuk menyambut datangnya tahun baru. Wajah Mio yang kuning langsat bersemu merah setiap kali ucapan selamat itu sampai di telinganya.

Namun ucapan selamat dari Rahman lah yang akan terdengar paling merdu di telinganya. Bukan karena Rahman seorang penyanyi ataupun seorang qori. Rahman bukan keduanya. Ucapan selamat yang terbilang tidak istimewa sekalipun, hanya sekedar “Salut Mio” ataupun kurang dari itu dan walaupun disampaikan sambil berlari tanpa sedikit pun mengurangi kecepatannya teramat istimewa baginya.

Rahman adalah sebab mengapa Mio selalu memilih rute yang sama sepuluh bulan sudah. Mio tahu kalau Rahman selalu mengambil rute lari pagi yang sama dari sabtu ke sabtu. Rute yang berlawanan dengan rute yang dipilihnya. Dan berpapasan dengan Rahman adalah momen istimewa yang tidak ingin dilepaskannya dari sabtu ke sabtu.

Beberapa kali Mio sengaja duduk melemaskan kedua kakinya di bangku jalan menunggu kehadiran Rahman berlari di hadapannya. Namun tak sekalipun Rahman menghentikan larinya. Hanya senyum tipis yang dilemparkannya ke arah Mio tanpa tegur tanpa sapa. Tapi itu cukup baginya dan harus didapatkannya lagi pada hari sabtu selanjutnya.

Tapi pagi ini Mio kembali tidak menemukan Rahman. Terpikir oleh Mio apakah Rahman pagi ini bangun lebih awal sehingga ketika Mio melalui rutenya seperti biasa, Rahman sudah menyelesaikan larinya dan kembali ke rumahnya yang ada di bagian lain kawasan perumahan itu. Ataukah hari ini Rahman terlambat bangun dan baru saja keluar memulai lari paginya tepat di saat biasanya ia menyelesaikan larinya.

Ini adalah kali kedua, seperti sabtu yang lewat, setelah sepuluh bulan lamanya, ia belum lagi melihat sunggingan senyum tipis milik Rahman sejak sabtu dua minggu lepas. Dilihatnya jam mungil di lengan kirinya. Waktu belum lagi jam tujuh pagi. Mio kemudian memilih salah satu bangku panjang putih yang menghadap ke arah danau tapi sesekali menengok ke arah jalan setiap terdengar hentakan berirama dari sepatu-sepatu orang-orang yang masih berolah raga pagi. Sepuluh menit sudah, namun Rahman belum juga muncul. Mio kemudian memilih memutar posisi duduknya membelakangi danau sehingga pandangannya mengarah ke jalan tempat orang-orang berlalu lalang. Ia takut saat ia menengok ke belakang, hanya punggung Rahman yang terlihat olehnya.

Setelah lima belas menit lamanya ia duduk menunggu, ia pun bangkit lalu berjalan ke arah jalan menuju rumahnya. Ia memutuskan pulang, tapi hati dan perasaannya terus berbicara padanya. Pikirannya kembali ke hari Jumat minggu lalu. Hari itu ia berangkat ke tempat kerja seperti biasa. Yang tak biasa, dia tidak membawa charger hp-nya hari itu. Malam sebelumnya, charger itu dipinjam oleh Faiz, kakaknya, dan dia lupa mengambilnya kembali. Padahal saat berangkat, batere hp-nya sudah tinggal dua batang saja. Sebelum tengah hari, hp itu kehabisan daya dan mati. Kesibukan kerja sejak siang hingga sore harinya membuat ia membiarkan hp itu begitu saja. Dia tidak perlu gangguan tambahan dari deringan hp-nya. Menjelang isya, sesampainya di rumah, barulah hp itu di-charge. Tapi karena kelelahannya yang sangat, dia membaringkan diri di atas tempat tidurnya yang terasa begitu empuk bagi raganya yang letih dan pikirannya yang penat. Hanya beberapa saat pun ia terjatuh dalam tidurnya yang pulas, mengembara ke negeri yang jauh meninggalkan tubuh yang tergeletak begitu nyaman dalam hembusan lembut AC dalam kamar tidurnya.

Tengah malam ia terjaga. Ia pun bangkit menuju kamar mandi, mengambil air wudhu. Selepas shalat Isya yang diikuti shalat Tahajud dan Witir, ia pun memanjatkan doa untuk ayah, ibu, mendiang kakek dan neneknya, kakak, adik dan dirinya sendiri. Setitik demi setitik air mata menetes ketika bibirnya mengucapkan keinginan terdalamnya saat itu, agar dipertemukan dengan seorang yang mampu membimbingnya dalam hidup dan kehidupan, berharap agar ia pun diberi kemampuan mendampingi lelaki gagah itu. Ia sebenarnya malu kenapa harus menangis untuk hal itu, ia merasa egois. Orang tua yang merawat dan mengasihinya sejak kecil belum seberapa terbalaskan kebaikannya. Ia belum mampu membahagiakan kedua orang tuanya, terutama ibunya, tapi ia tidak menangis ketika memanjatkan doa untuk mereka. Ia pun bersujud, dan mulai menangis sambil bibirnya menggumamkan permintaan kepada Allah agar diberikan waktu dan kemampuan untuk membalas kebaikan kedua orang tuanya, mebahagiakan dan membanggakan mereka.

Merebahkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur, ia teringat pada hp-nya yang masih di-charge. Hp itu diletakkannya di atas meja kerja yang dulu meja belajarnya sehingga ia harus bangkit lagi dari tempat tidur dan berjalan untuk mengambilnya.

Beberapa detik setelah hp itu kembali dari tidurnya sejak siang tadi, tanda SMS masuk pun berbunyi beberapa kali. Diperiksanya, dua SMS dari Faiz, sang kakak, satu SMS dari mbak Maslaha, rekan kantornya, dan dua SMS dari nomor yang sama, tapi tak dikenalinya. SMS dari Faiz menanyakan mengapa charger-nya tidak diambil dan satu lagi mengabarkan bahwa kini ia sudah sampai di Kuala Lumpur untuk tugas kantornya. SMS dari mbak Mas, begitu panggilannya, menanyakan jadi tidaknya rencana mereka pergi ke pengajian di mesjid Al Azhar pada hari Minggu pagi. Ketiga SMS itu dibalasnya dengan dua SMS singkat. Pada Faiz, ia berpesan agar kakaknya berhati-hati di negeri orang dan mendoakan kesuksesan tugasnya serta tidak lupa berpesan untuk membelikan oleh-oleh bagi orang rumah. Pada mbak Mas, ia menjawab singkat, dengan kata-kata khas orang Indonesia berjanji: Insya Allah.

Lalu perhatiannya beralih pada SMS dari nomor yang tidak dikenalinya. SMS pertama berbunyi: “Assalamualaikum Rahmi. Maaf ya kalo kaget terima sms dari saya. Ini Rahman, abangnya Rais. Anti1 masih ingat saya kan? Begini, boleh tidak kita berbincang besok pagi, di dekat danau. Wassalam.” SMS itu dari Rahman, diterima pada pukul 11.10. Beberapa saat setelah hp-nya mati.

SMS ke dua dari Rahman, diterima pada pukul 21.20. Isinya: “Rahmi, maaf ya kalau saya membuat anti tidak nyaman. Afwan2. Kalau anti tidak berkenan, saya bisa paham. Wassalam.”

Rahmi adalah nama sebenarnya dari Mio. Rahmi Oktaviani. Tapi karena saat SD ada nama Rahmi lain maka teman-teman memanggilnya Rahmi O. Faiz lah yang kemudian mulai menyingkatnya menjadi Mio yang kemudian diikuti oleh seluruh keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Hanya beberapa yang masih memanggilnya Rahmi yakni para guru serta dosen dan mendiang kakek, nenek, opa dan omanya.

Mio kemudian mulai mengetikkan SMS balasan: “Bang Rahman, ada hal apa ya? Aku gak ada masalah, kita bisa bicara di kursi dekat persimpangan jl awan dan jl pelangi.” Mio tidak langsung mengirimkan SMS itu. Ia pun membayangkan sebuah pertemuan yang sudah lama didambakannya. Betapa indahnya. Namun hatinya kemudian bertanya apakah ia sudah siap untuk berbincang dengan sang pangeran. Padahal hanya memandang senyum tipis dan singkat Rahman, hatinya seolah terbang dari tubuhnya, menuju langit merah jambu nun jauh di atas sana. Pikirannya kemudian yang berkuasa dan memerintahkan ibu jarinya menekan tombol bergambar gagang telpon berwarna merah. Diletakkan hp-nya di samping bantal lalu ia pun berbaring.

Dan sabtu pagi minggu yang lewat adalah untuk pertama kalinya ia tidak menemukan Rahman. Awalnya ia enggan melakukan kebiasaan sabtu paginya itu karena ia takut kalau sampai Rahman menghampirinya. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Dan juga menjawab kenapa ia tidak membalas SMS-nya. Namun dorongan hatinya untuk tidak melepaskan kesempatan menatap wajah sang malaikat hati membuatnya tetap melakukan rutinitasnya walau akhirnya ia tidak menemukan Rahman.

Dan hari ini, saat ia mulai melangkah mendekati rumahnya, tampak ayah dan ibunya sedang berbincang-bincang dengan beberapa tetangga. Begitu ia mendekat, ibunya lalu berkata: “Mio, kamu ikut ya melayat ke rumah bu Rasyid. Dia kan sering ketemu kamu di pengajian.”

Ia memang kenal bu Rasyid, seorang yang sangat senang mendermakan hartanya kepada masjid dan panti asuhan di perkampungan dekat komplek perumahan mereka tinggal. Mio lalu mengangguk.

“Kamu temani bunda dulu ya nak. Ayah mau ketemu pak RW untuk mengatur tanah makamnya. Tadi bu Rasyid sudah minta lewat ibumu agar Ayah mencarikan tanah pemakaman. Terima kasih ya cantik.” Ucap ayahnya sambil berjalan bersama om Fahri, tetangga sebelahnya, menuju mobil jenis city car milik om Fahri. Mio kembali mengangguk sambil tersenyum karena mendapat pujian dari sang ayah.

Mio lalu menghidupkan mesin sepeda motor bebek yang sudah diparkirkan di depan rumah, ayahnya sudah mengeluarkannya dari garasi rumah sebelum ia sampai. Ibunya lalu naik di belakang Mio sambil menyebutkan kalau rumah bu Rasyid ada di jalan Bintang.

Mendekati rumah bu Rasyid tampak beberapa bendera kertas minyak warna kuning di sudut-sudut jalan dan orang yang ramai berjalan menuju rumah duka. Ia kemudian memarkirkan sepeda motornya di depan rumah yang terletak beberapa rumah dari rumah bu Rasyid. Ia kemudian bergegas berjalan menyusul sang bunda yang dipanggil oleh rekan pengajiannya yang kebetulan baru sampai dan berjalan dari arah yang berlawanan dengan mereka.

Memasuki halaman rumah bu Rasyid yang luas, Mio melihat Rais, teman SMA-nya dulu, duduk di teras depan di samping bu Rasyid yang sedang menangis. Rais tampak memegangi bahu bu Rasyid sambil mengajaknya berbicara seperti sedang berusaha menenangkan. Wajah keduanya begitu mirip, Mio pun mulai berpikir apakah Rais dan bu Rasyid masih berhubungan keluarga. Dan kalau mereka adalah keluarga berarti Rahman pun ada di sana.

Mio yang berjalan di belakang ibunya kemudian sampai ke teras tempat bu Rasyid dan Rais tadi duduk. Kepada bu Rasyid sambil mencium tangannya, ia menyampaikan rasa turut berdukanya, juga mendoakan agar mendiang diberi tempat yang layak di sisi Allah dan yang ditinggalkan diberi ketabahan dalam menjalaninya. Kepada Rais, ia hanya mendoakan agar Rais juga tetap tabah. Saat itu Mio masih belum tahu siapa sebenarnya yang meninggal.

Dan Mio pun tersentak ketika ia mendekati pintu masuk ke ruang tamu tempat jenazah disemayamkan. Hatinya berguncang, tubuhnya terasa lemas. Di dekat pintu itu terdapat papan tulis putih yang bertuliskan nama yang berpulang. Dan nama yang tertulis itu adalah Abdurrahman Rasyid, nama panjang Rahman. Mio tidak kuat menahan rasa sedih dan terkejutnya. Tangisnya kemudian mengalir deras dan ketika ia mendekati jenazah, duduk di dekat bahu kanannya, memandangi wajahnya, ia merasa tidak kuat lagi. Ia pingsan.

Mio pingsan tidak lama. Setelah mendapat gosokan minyak kayu putih di tengkuk dan aromanya yang kuat di dekat hidungnya, ia pun tersadar. Ia sudah berada dalam ruang keluarga bu Rasyid. Dihadapannya ada bu Rasyid, pak Rasyid, ibunya dan Rais. Mereka sama-sama terlihat lega melihat Mio membuka kedua kelopak matanya lalu sama-sama mengucapkan pujian untuk Illahi Rabbi.

“Mio, kamu kenapa sayang?” Sang bunda bertanya dengan penuh kasih sambil memeluk Mio. Ia hanya tersengguk menahan tangis di bahu ibunya. Ia tidak menjawab. Dilihatnya Rais memandangnya dengan wajah penuh arti seolah-olah mengerti apa yang dirasakannya saat itu.

Ba’da Dzuhur jenazah Rahman pun dikebumikan di pemakaman tak jauh dari komplek perumahan mereka. Mio tidak ikut ke pemakaman. Bu Rasyid memintanya tetap di rumah menemaninya saat pemakaman dilangsungkan. Sang bunda pun tetap bersamanya, juga beberapa teman pengajian di mesjid komplek.

Pukul satu siang, Rais bersama pak Rasyid serta handai taulan kembali ke rumah. Rais tidak ikut masuk ke dalam rumah. Ia tampak berbelok ke arah taman samping.

Hp yang berada di saku celana olahraga Mio kemudian berdering. Di layar muncul nama Rais. Diterimanya telpon itu, dalam pesannya Rais meminta Mio untuk keluar dan berjalan ke arah taman di samping kanan rumahnya.

Mio pun menuruti permintaan Rais. Sang bunda berusaha menahannya dan menanyakan apakah ia sudah ingin pulang. Mio menjawab bahwa ia diminta Rais menemuinya di taman samping. Ibunya lalu melepaskan pegangannya dan mengangguk memberikan persetujuan.

Di taman samping, Rais sudah berdiri menunggunya di dekat sebuah kandang hewan sambil menggendong seekor kelinci kecil berwarna putih dengan beberapa bulu coklat muda di sekitar tubuhnya. Kelinci itu nampak begitu menggemaskan.

“Mio, kamu tahu siapa nama kelinci lucu ini?” Tanya Rais ketika Mio sudah berada di dekatnya.

“Siapa, Is? Jawab Mio pendek balik bertanya sambil mendekatkan telapak tangannya ke kepala kelinci kecil itu dan mengelusnya.

“Namanya sama dengan kamu. Mio.”

“Mio? Kok bisa?”

“Kelinci ini sebenarnya punya abang. Ia sudah lama merawat kelinci-kelincinya. Dan saat kelinci ini lahir, ia menamakan kelinci betina ini sama dengan gadis yang disayanginya. Kamu, Mio.”

Mio terdiam beberapa saat. Perasaan sayangnya pada Rahman ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Mio bingung mau berkata apa.

Rais paham bahwa Mio masih terkejut dengan perkataannya tadi. Namun ia juga merasakan bahwa Mio pun menyayangi abangnya. Lalu ia pun melanjutkan perkataannya.

“Iya, Mio. Abang sudah lama memendam rasa sayangnya sama kamu. Awalnya mungkin dari aku. Aku suka bercerita kalau di kelasku ada gadis yang baik dan pintar namun tetap rendah hati dan menjalankan ibadahnya dengan tekun. Abang terkesan. Dan ketika mama sering bercerita kalau di pengajiannya ada gadis cantik yang solehah, dan itu kamu, Abang semakin terkesan sama kamu. Lalu Abang mulai mencari tahu kegiatan kamu, dan Abang menemukan bahwa kamu setiap sabtu pagi selalu berolahraga berkeliling komplek. Dan sejak setahun yang lalu Abang pun mulai rutin lari pagi setiap sabtu. Dan Abang sengaja memilih rute yang berlawanan dengan kamu agar ia dapat sekilas memandangi wajah kamu karena Abang merasa tidak patut seorang laki-laki memandangi wajah perempuan bukan muhrimnya berlama-lama.”

“Is. Jumat minggu lalu, bang Rahman SMS aku, mau bicara sesuatu. Apa ya itu?”

“Entahlah. Tapi aku merasa bahwa Abang mau menyatakan keseriusannya sama kamu. Tapi… Mio kenapa kamu tidak membalas SMS-nya?”

Mio terkejut Rais menanyakan hal itu.

“Kamu kok tahu Is? Anyway, waktu itu hp-ku low bat dari pagi dan akhirnya mati dari jam 11-an. Baru hidup lagi sekitar jam satu paginya. Aku sebenarnya sudah mau membalasnya tapi aku… aku menyesal kenapa aku batal mengirimkannya.”

Mio mulai menitikkan air matanya. Ia menyesali tindakan yang ia ambil. Ia tahu karena ia tidak membalas SMS-nya akhirnya Rahman memilih ikut dengan tim pecinta alam kampusnya dulu menuju daerah yang sedang mengalami musibah tanah longsor. Seminggu lamanya Rahman membaktikan dirinya membantu orang-orang desa yang sedang ditimpa musibah itu. Namun naas tak dapat dielakkan. Umur manusia memang sudah ditentukan oleh Allah. Kemarin menjelang maghrib saat sedang mencari korban yang masih hilang di dekat hutan daerah itu bersama beberapa rekannya, maut menjemputnya. Tiba-tiba tanah bukit yang masih labil itu longsor kembali dan menimpa Rahman dan sebagian rekan-rekannya. Pada kejadian itu hanya Rahman yang tidak dapat diselamatkan karena ia berada paling depan dan akhirnya paling akhir berhasil dievakuasi.

“Kalau saja hari itu aku tidak lupa membawa charger. Kalau saja pagi itu aku membalas SMS bang Rahman, mungkin… mungkin…” Mio tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

“Sudahlah Mio. Kematian itu takdir Allah. Kita tidak bisa berandai-andai. Walaupun pagi itu kalian bertemu, Abang akan tetap berangkat menyusul teman-temannya. Itu sudah jadi sifatnya.” Rais berusaha menguatkannya.

“Tapi…”

“Sudahlah Mio. Kalau kamu memang sayang sama Abang. Aku punya permintaan buat kamu.” Rais memotong perkataan Mio yang sebenarnya sedang tidak bisa memikirkan kata-kata apa lagi yang tepat untuk diucapkan.

“Apa itu Is?”

“Kamu kan tahu kalau aku masih kuliah di Bandung. Di rumah hanya ada Papa dan Mama. Memang ada bik Yem dan pak Surip, tapi mereka juga tidak bisa diharapkan untuk menjaga warisan Abang.”

“Warisan? Maksud kamu?” Mio tidak mengerti apa maksud perkataan Rais.

“Iya, warisan. Aku kan tadi cerita kalau Abang suka memelihara kelinci. Dan terus terang kami kesulitan mencurahkan perhatian seperti Abang. Setiap Abang pergi untuk tugas kantornya satu atau dua hari saja, kelinci-kelinci ini tampak murung. Padahal orang rumah tetap memberikan makan dan minum seperti yang semestinya.”

“Kelinci ini murung?” Mio bertanya tanpa memikirkan maksud pertanyaannya sendiri. Kelinci yang juga bernama Mio kini sudah adalah pelukannya.

“Iya. Tapi sekarang tidak lagi. Mungkin mereka bisa merasakan kalo kamu bisa jadi pengganti Abang. Maksudku… kamu mau kan merawat kelinci-kelinci ini. Nanti kandangnya ini aku antarkan ke rumahmu. Aku mohon dengan sangat, Mi.” Rais tampak mengatupkan kedua tangannya di depan kepala yang ditundukkkannya seperti orang yang sedang memohon sesuatu.

“Hmmm… Baiklah Is, aku bersedia, tapi boleh ya aku ganti namanya. Soalnya kan gak mungkin namanya sama dengan namaku. Bisa sih bisa, tapi aku pengen manggil dia lain.”

“Oh tentu saja boleh Mi. Kamu mau ganti nama apa?”

“Aku mau namakan dia Rahma. Aku akan rawat dia seperti bang Rahman merawatnya. Juga kelinci-kelinci yang lain.”

“Terima kasih, Mi. Nanti kapan-kapan aku boleh ketemu keponakanku ini ya.” Canda Rais sambil mengoda Mio.

“Dasar kamu. Gimana Rahma, kamu mau ketemu sama om Rais? Hm? Mau? Gak mau tuh Is katanya.” Balas Mio sambil mencium dahi Rahma, sang kelinci kecil, buah hatinya yang baru.

Ia menganggap Rahma sebagai pengganti Rahman yang pergi menemui cinta yang hakiki, sang Khalik.

Dalam hatinya berkata bahwa ia akan menyayangi Rahma seperti Rahman menyayangi kelinci itu dan tak kalah besar dengan rasa sayangnya dulu pada Rahman.

Sebuah ciuman kembali mendarat di dahi Rahma.

“Rahma, kok kamu mau aja dicium orang belum mandi.” Rais setengah berteriak, ia sudah lari menjauhi Mio sambil menjulurkan lidahnya.

Mio pun balas menjulurkan lidahnya tapi hanya sesaat lalu senyum kembali menghiasi wajah cantiknya.

“I love you Rahma.” Bisiknya pelan.

Catatan kaki:

1 Anda atau kamu untuk perempuan dalam bahasa Arab.

2 Maaf dalam bahasa Arab.

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: