Cerpen : Selamat Tinggal Sepi

ibnu raz
Penulis dari indonesia

…terinspirasikan oleh seorang teman yang menemukan bidadarinya di Sulawesi

Di usianya yang telah mencapai kepala empat, Drajat masih saja hidup menyendiri. Sebagai anak bungsu dengan keempat kakak yang sudah menikah dan memiliki anak-anak yang beranjak besar, ia tidak pernah merasa kesepian. Rumah keluarganya yang besar di Bandung memungkinkan seluruh anak-anak ayah-ibunya bisa memboyong keluarganya masing-masing dan tinggal bersama. Keponakannya yang berjumlah 10 orang, dari yang terbesar berusia 20 tahun hingga yang terkecil berusia 4 tahun, membuat hidupnya selalu merasakan kehadiran bayi-bayi baru di setiap waktu sejak usianya mulai cukup matang dan naluri kebapakannya mulai tumbuh.

Tapi itu saat ia tinggal dan bekerja di Bandung. Sekarang sudah hampir dua tahun ia berada di Makasar untuk tugas kantornya di proyek pembangunan bandara Hasanudin. Awal hari-harinya dilaluinya dengan kesibukan di sana-sini, tak kenal waktu, siang-malam ataupun hari libur sekalipun. Ia hanya sempat pulang ke Bandung selama beberapa hari saat libur lebaran dua dan satu tahun yang lalu.

Namun beberapa bulan ini kesibukannya mulai menurun. Ia mulai memiliki waktu-waktu untuk dirinya sendiri, hari-hari libur atau saat malam mulai larut dan ketika acara di televisi mulai menjenuhkan. Hari-hari libur diisinya dengan pergi ke pusat kota terbesar di timur Indonesia itu. Entah pergi ke pusat perbelanjaan, toko buku, nonton film di bioskop, makan ikan bakar di kawasan Losari atau berlayar ke pulau-pulau kecil yang indah di selat Makasar, Kadang ia ditemani rekan-rekan kerjanya yang juga teman satu kosnya. Kadang ia pergi sendiri saja karena rekan-rekan lainnya yang baru bergabung dengan proyeknya sekitar enam bulan sebelumnya memiliki rencana pergi ke tempat yang sudah pernah disinggahinya.

Kesepian mulai menyapa setiap tak ada kegiatan yang harus digelutinya. Tidur malam yang biasanya bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan karena kepenatan pikiran dan keletihan fisik, kini tak lagi bisa dilakukannya dengan mudah. Matanya yang terpejam tak mampu memejamkan hati dan pikirannya. Hatinya mengeluh akan kesendiriannya, hatinya ingin dipeluk dalam kehangatan sepanjang waktu, terutama saat malam tiba. Pikirannya lalu berupaya menenangkan dengan mengingatkan bahwa tinggal beberapa bulan saja ia akan kembali ke keluarga besarnya. Kembali pada kakak-kakaknya, kakak-kakak iparnya dan sepuluh keponakannya. Namun hati kecilnya tidak mau menerima apa yang dikatakan pikirannya. Ia lalu mengingatkan tentang pesan amarhumah ibunya beberapa tahun yang lalu. Ibunya berpesan agar ia mulai memikirkan dirinya dan mencari pasangan hidupnya agar tak sepi di hari tuanya nanti. Ibunya menambahkan dalam pesannya bahwa setelah ditinggal almarhum suaminya, ayah Drajat, ia kerap dilanda rindu mendalam dan tetap merasa sepi walau di rumahnya tinggal bersama 9 anak-mantunya dan 10 cucu.

Setiap sang hati mengingatkan hal itu, sang pikiran akan berhenti mendebat bahkan kemudian larut bersama sang hati. Air mata kadang datang menemani membasahi pipinya. Hati dan pikirannya baru tunduk setelah ia bersujud kepada sang Khalik dalam shalat malamnya.

Namun sudah beberapa malam ini, pikirannya tidak pernah berusaha menenangkan hatinya. Ia bahkan yang memulai lebih dulu. Kehadiran Fafa, anak Pak Yus pemilik kos, dari studinya di Surabaya telah menggugah asanya akan pesan ibunya. Keanggunan milik ibunya terpancar begitu jelas dari wajah Fafa, hal yang dicarinya selama ini, sebagai penanda kekasih hatinya.

Hari Sabtu pagi di Makasar kali ini tidak seperti sebelumnya. Hujan tak kunjung berhenti sejak subuh tadi. Sehabis sarapan, Drajat melangkah ke teras depan, seperti biasa untuk menghirup teh dan membaca surat kabar. Sekitar lima belas menit ia membaca koran pagi itu, telinganya mendengar suara lembut menyapa hangat.

“Pagi, Kak Drajat.”

Drajat menoleh dan mendapati Fafa dengan senyum menghias wajahnya berdiri di dekat kursi rotan kosong dekat pintu rumah kos.

“Eh Fafa, selamat pagi juga.”

“Lagi asyik baca ya?”

“Ya, kebiasaan setiap sabtu dan minggu pagi. Karena gak perlu buru-buru ke proyek.”

“Oh gitu. Saya ikut duduk di sini ya Kak?”

“Oh silakan aja. Kan ini rumah kamu, Fa. Saya yang numpang di sini.”

“Makasih Kak.”

“Atau kalau Fafa mau sendiri di sini, biar saya pindah ke dalam.” Drajat menyesalkan kata-katanya itu. Kesempatan mengenal lebih dekat Fafa seolah dibuangnya percuma.

“Gak kok Kak. Saya malah lebih senang kalo Kak Drajat di sini. Biar ada teman ngobrol.”

Drajat tersenyum. Hatinya ikut tersenyum. Pikirannya bekerja keras memilih topik dan kata yang cocok untuk membuat Fafa terkesan. Tapi tidak berhasil. Jantung yang berdebar kencang membuat pikirannya sulit mengikuti keinginannya sendiri.

“Kak Drajat tahu gak. Dari dulu saya pun punya kebiasaan seperti ini. Tapi tanpa koran atau majalah. Saya senang memandangi lalu lalang orang dan kendaraan di depan. Mereka memberi inspirasi baru buat saya setiap kalinya.”

Kemudian keduanya pun larut dalam hangatnya perbincangan. Drajat merasa nyaman bersama Fafa sehingga ia tidak mengalami kesulitan memikirkan kata-kata yang harus dipilihnya, sesuatu yang tak pernah dirasakannya selama ini setiap kali ia berhadapan dengan perempuan yang menarik hatinya dimana kegugupan selalu menyergap. Perbincangan sempat terhenti ketika Bu Yus, ibu Fafa, datang dan menyuguhkan jalangkote, makanan kecil khas Makasar yang serupa pastel, namun tidak lama karena sang ibu kos segera meminta diri sambil tersenyum penuh makna.

Perbincangan berakhir dengan sebuah janji. Sore nanti, Fafa meminta Drajat menemaninya pergi ke toko buku di pusat kota. Drajat dengan senang hati meluluskan permintaan itu. Tumbuhan kecil di hatinya pagi ini mendapatkan siraman air ajaib yang membuat kini telah mekar bunganya.

Dan hari-hari selanjutnya pun begitu indah buatnya. Sampai suatu Sabtu pagi, dua minggu setelah perbincangan mereka yang pertama, di tempat yang sama, di teras depan, Fafa menyampaikan sebuah cerita.

“Kak. Saya gak tahu harus memulai dari mana. Kakak kan tahu kalau usia saya sudah lebih dari tiga puluh. Sejak saya masih di Surabaya, Bapak sudah menawarkan hal ini. Perjodohan. Bapak ingin menjodohkan saya dengan anak teman lamanya. Saya memang mengenalnya.”

Fafa diam, ia memandangi Drajat yang juga diam. Namun wajahnya tetap tenang dan menyiratkan bahwa ia ingin Fafa meneruskan ceritanya.

“Bapak bilang kalau saya tidak bisa menemukan seseorang di Surabaya, lebih baik saya menerima perjodohan ini. Dan tiga bulan yang lalu saat tengah sibuk menyelesaikan tesis, Bapak kembali bertanya, menyadari bahwa setelah dua tahun saya di Surabaya, saya tak juga bertemu dengan seorang yang kelak menjadi suami saya, saya pun mengiyakan keinginan Bapak.”

Fafa diam, lalu kembali memandang wajah Drajat. Drajat tetap diam dan memperlihatkan ekspresi yang sama akan ketertarikan kelanjutan cerita Fafa.

“Setelah mengiyakan permintaan Bapak lalu saya pun lupa. Saya benar-benar lupa sejak saat itu. Kesibukan menyelesaikan tesis, menghadapi sidang pengujian, mengurus administrasi dan bla-bla-bla, benar-benar membuat saya lupa soal itu. Sekembalinya saya ke sini pun saya masih lupa. Pertemuan dengan…”

Fafa menghentikan kata-katanya. Kali ini Drajat bersuara.

“Pertemuan dengan siapa?”

“Pertemuan… dengan… seseorang yang membuat saya merasa nyaman bersamanya. Kebersamaan dengannya membuat saya tetap lupa bukan sekedar pura-pura lupa. Sampai tadi malam, Bapak menyampaikan bahwa keluarga temannya itu akan datang hari Minggu besok untuk bersilaturahmi.”

Drajat bagai tersengat listrik mendengar itu. Jantungnya yang dari tadi berdegup kencang kini semakin kencang. Urat-urat di sekitar rahangnya terasa ketat membuat kata-kata yang diucapkan lewat mulutnya begitu berat.

“Me…reka datang… besok?

“Ya, Kak.”

Drajat berpikir keras. Hari ini sebenarnya ia sudah bertekad untuk menyampaikan perasaaannya pada Fafa. Dua minggu bersama Fafa secar intens telah cukup baginya untuk melihat Fafa sebagai tulang rusuknya yang hilang. Kalau ia nyatakan juga saat ini, ia khawatir akan membuat Fafa semakin bingung. Ia sudah berniat mengurungkan niatnya itu. Tapi, ia teringat kata-kata Ustadz-nya dulu bahwa dalam hal kebaikan ia tidak boleh mendahulukan orang lain, ia harus mendahulukan dirinya. Dan memiliki Fafa sebagai perwujudan pesan ibunya adalah sebuah kebaikan yang sangat mulia.

“Fa, apakah seseorang yang kamu katakan tadi itu… itu saya?”

Fafa tidak menjawab, ia terdiam beberapa saat. Hanya anggukan kecil yang dilakukannya sementara matanya tetap menatap lantai teras.

“Fa, sebenarnya saya pun merasakan hal yang sama. Saya juga ingin memintamu kepada Bapak sekiranya setelah saya katakan ini… katakan bahwa saya ingin serius dengan kamu… kamu memberikan tanda yang saya pahami. Sekarang… bukan bermaksud membuat kamu makin pusing memikirkannya, tapi saya harus sampaikan… saya ingin kamu jadi pendamping hidup saya… maafkan saya tapi saya harus Fa.”

Fafa terdiam, namun tetesan air mata mulai membasahi pipinya. Ia lalu menyeka pipinya dengan tangannya.

“Terima kasih Kak. Itu yang ingin saya dengar. Tapi saya pun mesti menuruti perintah orang tua. Saya tidak ingin membuat Bapak kecewa.”

“Walau kamu sendiri kecewa. Oh, maaf. Tidak seharusnya saya mendesak kamu.”

Drajat lalu berdiri.

“Fa, saya ingat saya harus ke kota. Saya janji dengan paman untuk membantunya mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke Padang. Saya masuk ya. Do this for yourself, shalat Istikharah akan membuat Allah bersamamu.”

Drajat lalu masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban Fafa.

Hari itu Drajat tidak pulang. Ia memilih bermalam di rumah pamannya. Ia merasa kehadirannya adalah hal terakhir yang ingin dijumpai Fafa saat ini. Ia ingin memberikan kebebasan pada Fafa, tidak ingin nantinya, ia tak kuasa menahan diri dan kembali mendesak, memperjuangkan cintanya. Ia merasa tidak perlu membuat Fafa terdesak dan memilih membantah Bapaknya, membuat hubungan Bapak dan teman lamanya menjadi cacat karenanya. Fafa sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Hari Minggu pagi hingga siang, Drajat habiskan dengan melanjutkan pekerjaan mengemasi barang-barang yang belum lagi rampung. Menjelang Ashar barulah pekerjaan itu selesai. Barang-barang telah dipindahkan ke truk besar yang akan membawa barang-barang itu ke kantor ekspedisi pengiriman barang sore ini juga. Sehingga saat pamannya itu sampai di Padang minggu depan, barang-barang itu sudah sampai juga sehari sebelumnya.

Setelah berjanji akan ikut mengantarkan kepergian pamannya minggu depan, Drajat pun pamit. Dari Bu Yus, ia tahu kalau keluarga teman Pak Yus akan datang menjelang makan siang. Seharusnya saat ia sampai di rumah menjelang Maghrib, ia tidak akan bertemu dengan mereka, terutama dengan laki-laki yang akan memboyong pujaan hatinya.

Sesampai di rumah tepat sebelum adzan Maghrib berkumandang, Drajat hanya masuk kamar untuk mengambil kopiah lalu kembali ke luar untuk melangkah menuju mushola dekat rumah kosnya itu. Di mushola, Pak Yus sudah duduk di dalamnya seperti biasa.

Shalat Maghrib usai. Tidak seperti biasanya, Pak Yus tidak berpanjang-panjang dalam dzikir-nya. Ia sudah berdiri di pintu mushola saat Drajat beranjak dari duduk bersimpuhnya. Senyum mengembang di wajah sang Bapak kos. Drajat lalu mendekatinya, menjabat tangannya sambil merendahkan kepala dan bahunya memberi hormat.

“Kemarin ke mana, Jat? Pak Yus membuka percakapan begitu mereka keluar dari area mushola, berjalan beriringan kembali menuju rumah.

“Kemarin saya bantu-bantu paman, pak. Dia mau pindah ke Padang minggu depan.”

“Oh jadi ya. Bapak ingat kamu pernah bilang itu.”

“Jadi, pak. Barang-barangnya besok sudah naik kapal ke Surabaya besok. Lalu dari Surabaya dibawa dengan truk kontainer.”

“Syukurlah…”

Mereka sudah mencapai teras depan. Drajat sudah ingin pamit masuk ke dalam karena biasanya Bapak kos akan duduk dulu di sana menikmati kopi yang sudah disediakan istrinya.

“Pak… saya duluan ke dalam ya.”

“Jat, kamu mau temani Bapak minum kopi? Teh kamu sudah Ibu sediakan.”

Drajat baru menyadari bahwa di meja kecil itu sudah ada dua buah cangkir, bukan hanya satu seperti biasanya. Drajat lalu mengangguk dan duduk di kursi rotan dekat cangkir teh yang disediakan untuknya sementara Pak Yus duduk di tempat biasanya duduk, kursi rotan dekat cangkir kopinya.

“Ada apa ya, Pak?” Setelah ia duduk sambil memandang Bapak kos menyulut rokok kreteknya.

“Bapak hari ini bahagia sekali, Jat.”

“Alhamdulillah, Pak. Saya insya Allah ikut bahagia.” Drajat berusaha tetap tenang. Ia menebak arah cerita Bapak kos-nya tentang lamaran keluarga teman lamanya untuk meminang Fafa.

“Kamu memang anak baik, Jat. Terima kasih.”

Pak Yus lalu mengambil cangkir kopinya sambil memberi isyarat mempersilakan Drajat meminum tehnya. Lalu diseruputnya kopi yang masih panas itu beberapa saat, lalu setelah ditaruhnya kembali cangkir itu, ia menghisap rokoknya lagi. Drajat melakukan hal yang sama, menyeruput tehnya, namun tentu saja tidak merokok.

“Hari ini Bapak bahagia. Fafa sudah menemukan pilihannya. Bapak bahagia karena ini pilihan hatinya.”

Drajat menghela nafasnya perlahan. Ternyata Allah telah menunjukkan orang lain untuk Fafa dan bukan dirinya.

“Hubungan Bapak dan teman Bapak pun makin erat. Sudah lama kami tidak bertemu. Ia kini sudah jadi pejabat di Jakarta. Kami bermaksud menjodohkan kedua anak kami.”

Bapak kos kembali menyeruput kopinya. Drajat hanya diam. Pandangannya diarahkan ke kewibawaan bapak kosnya yang dulu pernah berdinas di Angkatan Udara.

“Tapi ya, manusia berencana Allah yang menentukan. Tadinya Bapak kira, beliau datang ke sini untuk mematangkan pembicaraan kami sejak tiga bulan yang lalu. Hari ini ia dan istrinya datang untuk minta maaf karena tidak bisa memenuhi rencana kami. Anaknya sudah memilih memperistri teman kantornya di Jakarta. Ia bilang tidak bisa memaksakan keinginannya sehingga ia merasa perlu datang untuk minta maaf, tidak sekedar menyampaikannya lewat telepon. Di sela-sela kesibukannya, ia mau terbang ke sini hanya untuk menyampaikan hal itu. Bapak benar-benar terharu. Bapak dengan senang hati memaafkannya. Sebenarnya tidak ada yang perlu dimaafkan. Bapak malah merasa lega.”

“Lega?” Drajat kali menanggapinya. Ia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Iya, Jat. Bapak lega karena Bapak sudah seharian tadi bingung bagaimana membatalkan rencana ini. Selepas shalat Subuh tadi, Fafa sudah menunggu di depan pintu rumah. Menunggu Bapak. Dia menyampaikan dengan uraian air mata. Ia minta maaf kali ini ia tidak bisa menuruti keinginan Bapak. Ia punya pilihan lain. Bapak tidak tega melihatnya, tapi Bapak juga sampaikan kalau Bapak tidak berani menyinggung perasaan teman lama Bapak dan Fafa pun selama ini tidak pernah minta untuk membatalkannya. Bapak meminta Fafa untuk mengerti. Dan… Fafa memang anak yang berbakti. Ia bilang kalau ia rela melakukan apa saja untuk orang tuanya. Ia mencium tangan Bapak. Lalu kembali ke kamarnya tanpa berkata apa-apa.”

Kedatangan Bu Yus membawa sepiring jalangkote menghentikan kata-kata Bapak. Ia baru melanjutkan bicara setelah ibu kos kembali ke dalam sambil mempersilakan suaminya dan Drajat menikmati hangatnya jalangkote.

“Bapak yakin apapun yang Bapak putuskan, Fafa akan menerimanya. Tapi pilihan Fafa adalah pilihan Bapak sejak lama. Hanya saja Bapak tidak punya kesempatan untuk mempertemukan keduanya sejak lama. Bapak senang sekali dan bertekad menyampaikan permintaan maaf pada teman lama Bapak. Tapi, Alhamdulillah, beliau duluan yang minta maaf.”

“Siapa… siapa yang dipilih Fafa, Pak?” Drajat memberanikan dirinya. Ia ingin memastikannya. Ia tidak ingin berandai-andai. Jangan-jangan selain dia, ada laki-laki lain yang muncul di hati Fafa.

“Kamu, Jat. Siapa lagi.” Pak Yus menjawab dengan mantap.

“Alhamdulillah.” Drajat melafalkan pujian bagi sang Khalik. Doanya dikabulkan. Hati dan pikirannya mantap menyuruh mulutnya menyampaikan keinginan terbesarnya saat itu. “Kalau boleh minggu depan, saya akan melamar Fafa. Saya akan minta kakak-kakak saya untuk datang melamar dengan resmi.”

“Bapak setuju. Tapi Bapak sarankan besok kamu cari tempat tinggal lain dulu, rasanya tidak etis kalau calon suami-istri tinggal satu atap sebelum ijab qabul.”

“Saya setuju juga, Pak. Besok saya cari tempat tinggal sementara. Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih.”

Drajat lalu bangkit dan meraih tangan Bapak kos yang akan menjadi bapak mertuanya itu, mencium tangannya dengan hormat. Lalu minta diri masuk ke dalam rumah. Pak Yus hanya mengangguk-angguk mempersilakan. Senyum kedua calon mantu-mertua itu pun mengembang.

Begitu Drajat masuk ke dalam menuju kamarnya ia mendapati Fafa sedang duduk di ujung ruangan memandangnya. Drajat tersenyum ke arahnya sambil membuka pintu kamar. Fafa pun tersenyum, mengangguk lalu menunduk malu.

Langit di luar pun tersenyum. Tak ada awan, hanya bintang-bintang yang bersinar lebih terang dari biasanya. Malam itu bulan purnama, bulat sempurna.

Advertisements

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: