Cerpen : Cinta pertamaku

rakhma
cerpen dari indonesia

“Baru pulang ya?” sapa Mbak Erlina, mahasiswi fakultas Kedokteran yang kos di sebelah. Aku baru saja mau memasukkan motorku ke halaman kost. Kubalas sapaannya dengan senyum.

“Dedy, makan sama-sama, yuk! Belum makan, kan?” tanyanya lagi setelah aku memarkir motorku di halaman kost. Gimana mau nolak, sih perut udah nyanyi dari tadi, nih… Apalagi dari tadi siang belum makan, sekarang aja udah gelap, yaa, jelang isya’ gitu, deh.. Kebayang kan gimana merdunya nyanyian perutku dari beberapa waktu lalu? Lagian, itung-itung, ngirit juga kan kalau nggak usah beli makan? Hehehe..

Akhirnya, aku mengajak Mbak Erlina ke ruang tamu, menyiapkan piring, gelas, dan kami makan! Kalau orang melihat kami berdua, seperti sepasang kekasih saja! Padahal tidak demikian lho.. Dan hal itu tidak mungkin, kan? Apalagi Mbak Erlina itu kan sudah hampir selesai kuliah. Calon dokter, gitu… Nggak bisa dibandingin deh sama aku yang lulus SMA aja belum.

Mbak Erlina itu sungguh-sungguh orang yang baik hati,.. Lalu, kenapa aku bisa kenal dan bisa makan barengan gini? Ya, selain kos kami berdekatan, awal mula perkenalan kami dimulai ketika aku baru saja menjadi siswa baru di SMA. Segala macam bentuk penyiksaan yang dilakukan para senior padaku dengan dalih acara MOS, telah membuatku jatuh sakit. Aku yang saat itu belum diizinkan membawa motor, pulang ke kos dengan sempoyongan. Aku turun dari bis dan harus berjalan agak jauh untuk sampai ke tempat kos. Aku yang payah, kenapa bisa pingsan padahal sudah ada di depan kos. Tinggal melangkah masuk saja! Aku tergeletak di jalan di depan pintu kos. Memalukan! Apalagi ditemukan dalam keadaan begitu oleh seorang perempuan yang kos di sebelah tempat kos-ku.. Argghh….!!! Rasanya malu…! Aku ini cowok!!! Jadi kehilangan harga diri! Kenapa aku waktu itu nggak mati sekalian sih?? Biar senior-senior di sekolah juga disidang dan ditangkap polisi terus sistem MOS dan pendidikan dirombak, tahun depan nggak nerima siswa baru lagi kayak kasusnya yang di IPDN itu! Ah, sayang sekali aku masih hidup!

Mbak Erlina yang menemukanku langsung memanggil bapak kos ku dan meminta tolong untuk menggotongku ke kamarku. Ah, maluku jadi berlipat-lipat nih.. nggak enak sama Bapak kos.

Setelah itu sorenya, mbak Erlina menjengukku yang masih seperempat sadar tertidur di atas kasur. Dia minta izin Bapak kos untuk mengantarkanku makan malam. Dia mengetuk pintu kamarku pelan lalu membukanya sedikit. Dengan kepala yang hanya melongok sedikit itu, dia menyodorkan makanan.

“Ini, mbak taruh di meja ya.. Nanti dimakan!” katanya sambil menaruh bungkusan itu di atas meja di dekat pintu. Itu meja belajarku, yang di sampingnya tertempel foto keluarga. Biasalah kalau anak kos memajang foto keluarganya! Itulah awal perkenalan kami yang menurutku sangatlah memalukan. Meskipun begitu, kupikir ia tak terlalu memikirkannya dan keesokan harinya ia menjengukku lagi dengan membawakan sarapan..

“Mbak mau menikah,” kata Mbak Erlina membuyarkan lamunanku tentang awal pertemuanku dengannya. Aku hampir-hampir tersedak mendengar berita itu.

“Kapan?” tanyaku berusaha menyembunyikan rasa terkejutku.

“Hm,, kamu selesai ujian kapan?” Mbak Erlina malah balas bertanya.

“Kira-kira Mei sudah selesai. Memangnya kenapa?”

“Ya.. kalau begitu kan, Mbak bikin acara nikahannya setelah kamu selesai ujian saja, biar kamu bisa datang…,” katanya sambil berbinar-binar.

“Nha, bagus itu! Memang harusnya nunggu aku ujian dulu baru menikah! Biar aku bisa ikut pas nikahannya Mbak!”kataku seolah turut senang mendengar kabar itu. Padahal dalamnya aku patah hati! Bwaaaa….!!! Hiks! Kenapa sudah mau menjelang ujian nasional aku malah patah hati???? Bikin malas belajar saja.

————————————

Aku jatuh sakit. Entah karena terlalu lelah belajar atau karena shock mendengar rencana pernikahannya Mbak Erlina atau malah karena keduanya. Ibu baru saja telepon, dan aku hanya bilang, aku sedang sakit. Ibuku malah menceramahi tentang macam-macam, ya minum susu setiap harilah, minum vitaminlah, minum madulah, tidur yang banyaklah, dan lain-lain sebagainya itu.. Aku Cuma bilang iya, iya, dan iya, dan aku pengen cepat-cepat tidur….

Tok, tok, tok…

Ketokan pintu di pagi hari membangunkanku. Aku Cuma bilang, “masuk,” tanpa bertanya siapa itu yang datang. Ternyata Mbak Erlina! Aku langsung melek dan terduduk.

“Baru bangun ya? Gimana keadaanmu? Katanya kamu sakit? Udah baikan?” tanyanya ramah sambil meletakkan bungkusan nasi di atas mejaku, dia masuk ke kamarku.

“Kok tahu kalau aku sakit?” tanyaku.

“Nih, Mbak bawakan bubur ayam. Kamu pasti belum sarapan, kan? Oh, ya, kalau kamu bangun sesiang ini, apa kamu tadi sudah subuh?” tanyanya tak mengindahkan pertanyaanku barusan. Aku cuek saja dan hanya menggeleng pelan atas pertanyaannya.

“Aduh….! Gimana, sih adekku ini! udah besar kok sholatnya masih pada bolong… ayo buruan sana cepat subuh! Kalau ketiduran, harusnya begitu bangun langsung subuh!” katanya berceramah panjang. Aku hanya berjalan gontai keluar kamar meninggalkan Mbak Erlina di kamarku.

Jadi aku ini memang hanya dianggap adiknya ya? Padahal aku pikir sudah ada kemajuan, dia sudah berani masuk kamarku. Aku ini terlalu banyak berandai-andai, padahal aku tahu dia sudah mau menikah….

————

Ujian sudah berlalu, dan kulewati masa-masa penuh perjuangan itu dengan penuh semangat. Entah karena di sampingku selalu ada Mbak Erlina yang mendukung dan selalu menyemangatiku atau karena keinginanku yang tulus?? Fuh, ngapain dipikir, ya? Yang jelas aku lagi sangat jealous karena Mbak Erlina kemarin baru saja pulang ke tempat orangtuanya untuk lamaran. Jadi ngerasa sendirian di kota ini padahal baru sebentar dia tidak ada di kos-nya. Selama tiga tahun, nggak terasa aku selalu berada di samping dia. Gimana aku nggak jatuh cinta coba? Apalagi perhatiannya padaku yang menurutku sangat berlebihan yang membuatku sedikit, eh, banyak malah, berharap cintaku terbalaskan. Ternyata, setelah kebersamaan itu, dia tiba-tiba mau menikah dengan orang lain…. Cintaku kandas.

Ibu yang telepon kemarin-kemarin ini bilang kalau kakak perempuanku yang dulu hilang karena pernah diculik orang akhirnya ditemukan dalam keadaan hidup dan membawa berita gembira. Dia sudah mau menikah. Karena itu aku disuruh pulang. Kenapa kakakku yang hilang itu baru ketemu saat sudah mau menikah? Apa karena dia mencari ayah untuk menjadi wali nikahnya? Coba kalau belum mau menikah? Pasti sampai sekarang masih hilang. Aku menanggapi berita dari ibu dengan biasa-biasa saja kalau tidak mau dibilang dengan dingin dan ketus. Ah, musim kawin memang menyebalkan..

“Hei, kenapa dari tadi cemberut? Bukankah ini liburan sekolah? Hmm, tapi, bukankah liburan sekolah masih lama, ya? ” tanya pria yang duduk di sampingku di atas pesawat yang sedang terbang menuju tanah kelahiranku.

“Aku siswa kelas tiga, jadi sudah ujian. Sekarang sudah libur, ” jawabku sekenanya.

“Kamu mau pulang kampung?” tanyanya ramah sambil tersenyum.

“Begitulah,.. Kau sendiri?”

“Aku ada acara lamaran di rumah calon isteriku,” pria itu menjawab sambil berbinar-binar.

“Jadi kau mau menikah, ya?” tanyaku datar.

“Begitulah,” katanya sambil tersenyum cerah membuat aku ingat lukaku saja.

“Fuh, memang benar-benar musim kawin, ya.. semua orang menikah dan semuanya terlihat bahagia. Kakakku mau menikah, kau mau lamaran, hanya aku yang bersedih-sedih karena barusan patah hati..,” kataku mulai menggerutu.

“Patah hati? Jadi itu sebabnya kamu cemberut dari tadi?”

“Orang yang kusukai juga mau menikah dekat-dekat ini.”

“Apa? Maksudmu cewek yang kamu taksir langsung menikah begitu lulus SMA?”

“Siapa bilang aku naksir cewek yang sebaya denganku?” kataku dengan ekspresi yang masih datar-datar saja. Aku benar-benar nggak ngerti kenapa aku asal nyerocos saja tentang hal seperti ini pada orang yang tak kukenal. Mungkin aku bisa sedikit lega?

“Oh, jadi kamu naksir orang yang lebih tua darimu, ya?” pria itu langsung mengerti. Aku hanya mengangguk lemah dan aku sudah malas bicara apa-apa lagi tentang hal itu. Selanjutnya pria itu berusaha menghiburku. Mungkin merasa tidak enak dirinya senang sendirian sementara aku patah hati. Kami pun hanya mengobrol masalah-masalah yang tidak penting, misalnya namaku atau namanya, atau dia pergi dengan siapa untuk acara lamaran, atau ujian-ujianku yang sudah berlalu.

———————–

Setelah pesawat mendarat, aku berpisah dengan teman dudukku di pesawat, pria yang akhirnya kuketahui bernama Sunu. Dari bandara aku langsung naik taksi. Beberapa menit kemudian aku sudah tiba di depan rumah. Aku segera turun dari taksi dan ketika sopir taksi menurunkan koperku dari bagasi, ibuku keluar dari rumah dan menyambutku.

“Eh, kamu sudah datang …,” kata ibuku sambil memelukku, kemudian melepas pelukannya dan berkata, “kamu pasti kangen sekali, kan pada kakak? Tuh, kakakmu sudah menunggumu.” Aku pun masuk rumah mengikuti ibu. Di ruang tamu, aku melihat sosok yang biasa aku temui, yang biasa aku lihat, dan orang yang paling dekat denganku selama tiga tahun aku kos, sedang duduk menonton teve, menoleh kepadaku yang baru saja tiba.

“Mbak Erlina?! Ngapain Mbak di sini?” kataku histeris campur terkejut.

“Aduh, Dedy, sudah tidak bertemu sekian lama kok seperti itu kata-kata yang terlontar?” kata ibuku.

“Gimana, sih, aku ini, kan kakak kandungmu yang sudah lama hilang!” kata Mbak Erlina sambil mencubit kedua pipiku dengan meringis.

“Kok?” aku masih linglung…

“Benar, sebetulnya kakakmu ini sudah agak lama ditemukan. Dan dia sudah bertemu dengan ayah dan ibu dan juga sudah tes DNA untuk membuktikan bahwa dia ini benar-benar kakakmu. Tetapi, setelah itu dia ketemu kamu, jadi dia minta dirahasiakan mengenai dirinya yang sudah ditemukan untuk kejutan kamu,” jelas ibu panjang lebar.

“Jadi?”

“Ya, kalau aku bukan kakak kandungmu sendiri, buat apa sih aku rawat kamu ketika sakit, dan ngapain sih aku berani-beraninya masuk kamarmu? Coba dipikirlah… kalau aku bukan kakakmu, nggak mungkin kan aku mau dekat-dekat kamu?” kata Mbak Erlina lagi.

Jadi aku selama ini jatuh cinta pada kakakku sendiri dan patah hati gara-gara kakakku sendiri? Alasan Mbak Erlina memanggilku adik bukan hanya sekadar menganggapku adiknya, dan mengapa dia selalu di sampingku ketika aku butuh, kenapa begitu perhatian dan baik padaku itu semua dia lakukan karena dia merasa bertanggungjawab atas adiknya! Alasan mengapa aku harus datang pada acara pernikahannya dan juga kenapa dia bisa tahu aku sakit (pasti ibu yang bilang karena sebelumnya aku telepon ibu). Dan aku pikir, Mbak Erlina tahu kalau aku ini adiknya mungkin pada awal pertemuan kami. Ketika dia menjengukku di kamar kos, pasti dia melihat foto keluarga yang pastinya dia langsuung tahu bahwa aku ini adiknya. Itu berarti sebelum pertemuanku, dia sudah bertemu dengan orangtuaku dan hanya aku yang tidak diberi tahu! Oh! Duniaku langsung runtuh seketika. Aku merasa dibodohi.

Aku merasa sia-sia dan kesal. Kejutan ini benar-benar membuatku panas dingin.

Pagi itu, ibu mengetuk pintu kamarku yang terletak di lantai dua. Katanya suruh bantu-bantu untuk menyiapkan acara lamaran ini. Di lantai bawah sudah ramai, dan calon mempelai pria sudah hadir. Tinggal menunggu penghulu agama datang. Aku segera mandi, lalu bersiap-siap. Aku pun turun ke bawah. Acara lamaran ini hanya dihadiri beberapa tetangga dekat dan saudara. Aku ingin tahu, mana orang yang menjadi calon suami kakakku?

“Ibu, yang mana sih calon suami kakak? Aku belum tahu,” tanyaku pada ibu yang sedang mengisi gelas-gelas dengan air teh.

“Hm,, kamu sih, kemarin tidurnya cepat. Padahal kemarin orangnya dan ayahnya datang kemari, lho,” balas ibuku, “sini ibu tunjukkan,” kata ibu lagi. Aku pun mengikutinya berjalan ke depan. Ibuku dengan berbisik merinci ciri-ciri fisik calon suami kakakku.

“Namanya kalau tidak salah Sunu,” ibuku menambahi.

Oh! Dia kan…. Pria yang duduk di sebelahku waktu di pesawat! Pria itu melihat ke arahku dan melambaikan tangan padaku. Sunu! Benar! Nama pria itu!

“Lho, ternyata kamu sudah mengenalnya, ya?” tanya ibu. Argghhh……..!!! Apakah dunia sesempit ini? Aku merasa ditipu berlipat-lipat!

Advertisements

Satu Respons

  1. Walaupun xberapa paham dgn bahasa indon, tp cite nie…not bad

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: