Cerpen : 45 Minit Terakhir

Aneuk Mie
Kisah Benar

Ini adalah hari pertama bagiku untuk menjejakkan kaki kembali di Banda Acheh. Empat tahun sudah aku meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan indah ini untuk melanjutkan kuliah di Malaysia. Aku merasakan sensasi seperti terbangun dari tidur yang gundah dan menyedari bahwa aku masih berada di tempat tidurku sendiri yang nyaman.

Perlahan, aku menyusuri kembali jalan-jalan di kota Banda Acheh. Aku berusaha memperlambat laju kereta ku ketika melewati Taman Sari, tempat aku dulu selalu menghabiskan petang Sabtu bersama teman-teman. Sekumpulan remaja dalam usia sekolah menengah sedang bercengkrama di taman itu. Persis seperti empat tahun yang lalu ketika aku dan teman-temanku suka berkumpul di taman ini.

Tiba-tiba aku tersedar bahwa tidak seorang pun teman sekolah menengahku yang mengetahui kedatanganku ini. Bahkan dua orang bekas pelajar sekelas yang paling rapat denganku pun tidak tahu bahwa aku sedang berada di Banda Acheh. Aku tersenyum membayangkan betapa nanti terkejutnya Suci dan Dhani saat bertemu denganku.

Teringat kembali olehku sosok Dhani, cinta pertamaku. Aku menyukainya sejak hari pertama masuk sekolah menengah hinggalah saat perpisahan tamat belajar tiba, dan dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang polis.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan keinginan Dhani untuk menjadi apapun yang dia suka. Tapi, orang tuaku sejak awal lagi sudah menyatakan keengganan mereka untuk bermenantukan seorang polis atau askar. Imej seseorang yg berkerjaya sebagai polis atau askar sangat buruk disini, terutama di Acheh. Secara tidak langsung orang tuaku menyatakan jika aku menikahi seorang polis atau tentera, berarti aku telah mengkhianati bangsaku sendiri – Acheh.

Masih kuingat petang itu, empat tahun yang lalu, saat kali terakhir aku bertemu dengannya.
“Dhan, kenapa kamu tidak kuliah saja seperti aku? Untuk apa sih kamu masuk Akademi Polisi? Kamu kan tahu, Dhan, citra polisi di negara ini sungguh jelek. Terutama di Acheh!” debatku saat dia menyatakan keinginannya untuk menjadi polis.

“Tapi, Intan, kan tidak semua polisi itu brengsek. Justru aku ingin mengubah citra jelek itu. Aku ingin jadi polisi yang bisa diteladani, yang akan membuatmu bangga,” helahnya sambil tersenyum.

“Lagi pula, aku kan tetap Dhani-mu? Walaupun aku nanti jadi seorang polisi, dokter, atau ilmuwan. Iya kan, Ntan?” pujuknya.

“Tapi, Dhan…,” aku tertunduk kecewa,

“kalau kamu jadi polisi, orang tuaku tidak akan menyutujui jika nanti kita menikah.”

Dhani terdiam. Selama beberapa saat dia terpengun, sebelum akhirnya berkata,

“Kamu ingin kita nanti menikah, Ntan?”

Aku diam, dan dia melanjutkan, “tapi saat itu kan masih berada jauh di depan kita, Ntan.”

Aku menatap mata Dhani…, ada senyuman di wajah itu. Dan rasa malu tiba-tiba saja menghampiriku.

“Walau pun saat itu masih berada jauh di depan kita, saat itu tidak akan datang jika kamu masuk polisi, Dhan,” kataku sambil bangkit berdiri.

Dhani hanya diam terpaku melihat diriku yang beranjak pergi meninggalkannya duduk sendiri.

***

Kubelokkan kereta memasuki perkarangan rumah Suci. Debar jantungku menimbulkan sensasi yang menanti akan pertemuan ini. Kuparkir keretaku di bawah pokok mangga yang rindang, dan kemudian berjalan ke pintu depan rumah Suci.

Seorang wanita setengah baya membukakan pintu.

“Assalamu’alaikum,” sapaku, “bisakah saya bertemu dengan Suci, Bunda?”

“Wa’alaikumsalam,” jawabnya. “Masuk dan duduklah dulu, Nak. Bunda panggilkan Suci sebentar, ya?” katanya sambil tersenyum. Ia mempersilakan aku masuk ke ruang tamu dan kemudian dia pun menghilang ke ruangan lainnya.

Tak lama kemudian, Suci masuk ke ruang tamu sambil mengucapkan salam. Namun, tiba-tiba dia terpaku melihatku. Dia hanya berdiri seperti patung yg maha kaya dengan ekspresi tercengang di depan pintu.

Aku datang mendekatinya sambil menjawab salam. Kupeluk erat tubuhnya dalam dekapanku sambil berkata,

“Suci…, aku rindu sekali padamu!”

Beberapa saat lamanya kami saling berpelukan di depan pintu itu. Sampai akhirnya Suci melepaskan diri dan tertawa, “Intan…, akhirnya kamu kembali juga ke kota ini. Empat tahun! Kamu ngapain aja di Malaysia selama itu?”

Aku tersenyum, “Aku balik ke Acheh kok, Ci. Tapi cuma ke Meulaboh, mengunjungi orang tuaku.” Kulihat ada air mata bahagia yang menetes di pipi Suci, dan kemudian kusedari bahwa mataku sendiri pun turut basah.

***

Setelah aku bersilaturrahim dengan keluarga Suci di rumahnya tadi, aku dan dia memutuskan untuk duduk-duduk sambil menikmati makanan dan minuman di luar rumah. Tiga puluh minit lamanya kami berkeliling dengan keretaku sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti di Rex, sebuah foodcourt yang terletak di pusat kota Banda Acheh. Disinilah kami berada sekarang, membicarakan tentang kedatanganku.

“Apa yang terjadi sampai kamu memutuskan untuk datang lagi ke kota ini, Ntan?” tanya Suci sambil meletak minumannya.

“Hmm…, aku rindu kota ini…, dan aku rindu kamu!” jawabku seadanya.

Dia tertawa, “Aku tahu itu. Tapi, kamu telah merindukan kota ini dan aku sejak hari pertama kamu meninggalkan kami…, lalu apa bedanya sekarang?” Suci berkeras. “Apa yang terjadi antara kamu dan Dhani?” selidiknya.

Tidak ada gunanya menyimpan rahasia dari Suci. Dia sudah mengenaliku sejak bertahun lamanya, dan tak pernah sekalipun aku berhasil menyembunyikan sebarang rahasia dari pengetahuannya.

“Dhani meneleponku seminggu yang lalu,” jawabku, “pertama kali sejak pertemuan terakhirku dengannya.”

“Lalu?” tanyanya kembali sambil menegakkan badan. Ekspresi wajahnya begitu ingin tahu sehingga membuatku tertawa.

“Dia cuma mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku, tapi tidak bisa datang ke Malaysia karena harus dinas. Jadi, dia minta aku untuk datang ke Banda Acheh dan menghubunginya begitu aku sampai. That’s all!” aku menjelaskan.

“That’s all? That’s all!” pekik Suci. “Dan sekarang kamu di sini untuk menjumpainya? God!”

Aku terkekeh mendengar perkataannya. Aku sendiri juga masih belum percaya kembali ke kota ini hanya kerana mendapat panggilan talifon dari Dhani itu.

“Empat tahun aku berusaha membujukmu untuk datang kembali ke kota ini tanpa hasil, dan sekarang kamu kembali hanya kerana sebuah panggilan telifon dari Dhani?” tanyanya bagi tidak percaya.

“Ya…,” jawabku malu.

“Lalu bagaimana dengan alasan sibuk kuliahmu dulu?” sindirnya.

“Ah…, Suci! Jangan buat aku merasa tidak enak begitu dong!” Aku bergurau. “Setidaknya aku disini sekarang, bersamamu. Ya kan?”

“Oke…, kamu sangat mencintainya, ya kan, Ntan?” serkap jarangnya mulai memainkan peranan.

Aku merasakan aliran hangat merambat di mukaku. Pasti mukaku memerah sekarang.

“Ya…, aku tahu itu tanpa harus mendengar jawabanmu..,” Suci memperhatikanku tanpa berkedip. “Lalu, kapan prince charming itu akan datang?” tambahnya.

“Aku belum memberitahunya kalau aku sedang di Banda Acheh. Aku baru saja berniat akan meneleponnya sekarang,” kataku apa adanya.

“Whattt?”

***

Perasaan resah sewaktu menanti kedatangan Dhani terus hilang ketika aku melihat sosoknya berjalan mendekati meja kami. Kini Perasaan gugup silih berganti memenuhi dadaku ditambah pula dengan debar jantung yang tak menentu. Suci tersenyum ke arahku. Dia tahu apa yang sedang bergejolak di hatiku kini.

“Assalamu’alaikum, Intan,” sapa Dhani sambil menjabat tanganku. “Sudah empat tahun kita tidak bertemu, dan kamu makin cantik saja,” senyumnya.

“Wa’alaikumsalam, Dhan,” jawabku sambil tersipu. “Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja, Alhamdulillah,” jawabnya sambil berpaling ke arah Suci. “Hai, Assalamu-’alaikum, Ci.”

“Wa’alaikumsalam, Dhan.” Suci tersenyum sambil menjabat tangan Dhani. “By the way, guys. Aku ada perlu sebentar nih, aku tinggal dulu ya?” tiba-tiba Suci memohon diri. Sempat digenggamnya lembut lenganku sebagai tanda mengucapkan good luck.

“Ci, jangan lama-lama ya?” kata Dhani tiba-tiba. “Aku ga bisa lama, mau dinas. Aku cuma punya waktu 45 menit.”

“Oke juga…, nanti aku balik lagi. Jaga Intan ya?” usiknya sambil berlalu dari hadapan kami.

***

Dhani duduk diam di kerusi yang terletak di sampingku. Dan aku juga hanya diam memandang orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar kami. Tak sepatah-katapun terucap sejak sepeninggalan Suci.

“Kamu rindu kota ini, Ntan?” tiba-tiba Dhani memecah kesunyian.

“Ya, tentu saja. Kota ini penuh dengan kenangan masa SMU-ku. Tiga tahun yang tak akan pernah terlupakan dalam hidupku,” aku berkata perlahan.

“Kenangan bersamaku?” tanyanya lagi.

“Tiga tahun yang kuhabiskan di kota ini di isi dengan hari-hari bersamamu di sekolah, Dhan…” aku berpaling menatapnya. “Aku tak bisa mengingat hari bahagia yang kuhabiskan di kota ini tanpa mengingat kehadiranmu.”

Dhani tersenyum. “Kamu masih mencintaiku?” tanyanya langsung sambil menatap tajam mataku.

Aku terpegun. Empat tahun lamanya dia menghilang tanpa sebarang khabar berita, dan kini menanyakan apakah aku masih mencintainya? Berani sungguh dia bertanya seperti itu sekarang.

Perasaan kesal tiba-tiba saja menggelora dalam dadaku. Aku bangkit berdiri untuk meninggalkannya. Lagi pula, bukankah dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku? Dia memintaku datang ke kota ini untuk memberitahu sesuatu kepadaku, bukan untuk menanyakan sesuatu!

Sambil berdiri, aku mengambil beg tangan yang dari tadi kuletakkan di atas meja. Namun tangan Dhani sudah terlebih dahulu memegang dan menarik lembut tanganku. Pandangannya memohon agar aku kembali duduk di sampingnya.

Aku menarik nafas dengan dalam, “Apa-apaan ini, Dhan? Empat tahun kamu tidak memberiku kabar dan tiba-tiba meneleponku meminta ingin bertemu,” kataku, “kamu bilang kamu ingin mengatakan sesuatu, tapi sekarang malah mengintrogasiku. Kamu mau mengatakan sesuatu atau tidak?” semburku. “Kalau tidak, lebih baik aku pergi saja.”

“Intan,” pintanya lembut, “ayolah…, duduk. Please!”

Aku duduk kembali dalam diam. Dhani hanya memandangku sambil tersenyum. Lama kemudian dia berkata,

“Aku masih mencintai kamu, Ntan! Makin mencintai kamu!” Lalu dia berpaling dan mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.

Lama aku diam…, merenungi kata-katanya. Kekesalanku perlahan reda.

“Lalu, mengapa baru sekarang kamu menghubungiku, Dhan?” tanyaku setelah beberapa saat.

“kerana aku polisi, Ntan. Orang tuamu tidak akan menyetujui hubungan kita kan?” katanya sedih. “Empat tahun lamanya aku berusaha untuk melupakanmu…,” dia kembali menatapku, “namun tidak pernah sedetik pun aku berhasil melakukannya.”

“Entah berapa banyak malam yang kuhabiskan di pendidikan militer…, memikirkan untuk melarikan diri dan menjumpaimu di saat itu juga…,” katanya sambil tersenyum. “Dan entah berapa ratus kali aku mengangkat gagang telepon untuk menghubungimu…, namun tak pernah jadi kulakukan.”

Dhani meraih tanganku. “Please, Ntan…, aku ingin tahu…, apakah kamu juga masih mencintaiku?” tanyanya.

“Kamu tetap saja seorang polisi sekarang, Dhan. Kondisinya malah lebih parah dari pada waktu terakhir kita bertemu. Saat kamu masih seorang pelajar yang memiliki keinginan untuk jadi polisi. Kamu sekarang seorang polisi sungguhan. Lalu, apa yang membuatmu memutuskan untuk menghubungiku minggu lalu?” aku mengabaikan pertanyaannya dengan bertanya pula.

“kerana aku sadar bahwa aku tak peduli walau semua orang di dunia ini tidak menyetujui hubungan kita. Aku mencintaimu…, Apakah kamu masih mencintaiku, Ntan?” kembali Dhani bertanya sambil menatap tajam mataku. Tatapannya begitu menuntut sebuah jawapan…, ada kilau kerinduan jauh di dalam bola matanya…,

Akhirnya aku tersenyum membalas tatapan mata itu…, “Apakah kedatanganku ini tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Dhan?” kataku. Kemudian aku tertunduk malu, tak sanggup membalas tatapannya.

“Oke…, satu masalah selesai. Sekarang aku tahu aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Tinggal bagaimana caranya meyakinkan orang tuamu untuk menyetujui hubungan kita…,” katanya sambil tersenyum.

***

Sisa waktu sebelum Dhani pergi kami habiskan dengan berbual sambil makan dan minum. Waktu selama empat tahun yang telah memisahkan kami terasa lenyap bagaikan uap-uap air yang melayang ke angkasa biru. Dia masih Dhaniku yang dulu…, Dhaniku yang serius…, Dhaniku yang suka tersenyum…, Dhaniku yang suka menatap mataku dengan matanya yang tajam…,

“Kamu tetap akan balik ke Malaysia besok pagi?” tanya Dhani.

“He-eh..,” jawabku, “aku harus ikut ujian, Dhan.”

Seraut perasaan kecewa terlihat di wajahnya. “Aku harus dinas sekarang…, dan baru selesai besok siang…, aku tak akan bisa mengantarkanmu ke bandara jika kamu naik pesawat pagi.”

Aku tersenyum melihat keengganannya membiar keberangkatanku itu.

“Ga apa-apa kok, aku bisa ke bandara sendiri.”

“Oke…,” katanya lagi, “kapan kita akan bertemu lagi? Minggu depan aku berangkat ke Hongkong.”

“Hongkong?” aku tercengang.

“Ya…, ada pelatihan inteligen di sana…, aku akan balik dari Hongkong akhir bulan Desember.” Dhani tersenyum.

“Oh…, oke…,” aku balas tersenyum, “pokoknya, kamu harus hadir di hari kelulusanku di bulan Maret nanti, oke?”

Dhani hanya tersenyum mendengar permintaanku.

“Dhan! Janji…, kamu akan datang untukku, kan?” tanyaku.

“InsyaAllah…, sayang! Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi…, oke?” katanya sambil meraih tanganku ke dalam genggamannya.

“Oke juga…, dan jangan lupa untuk tetap meneleponku!”

***

Malaysia, 29 Desember 2004

Aku duduk bersimpuh hanyut dalam doaku kepada Sang Pencipta, setelah usai melaksanakan Shalat Maghrib.

Tiga hari yang lalu, kotaku tercinta diluluh-lantakkan oleh gempa bumi berkekuatan 9.0 skala Richter yang diikuti dengan gelombang Tsunami. Segalanya musnah…, rumah-rumah hancur, jalan-jalan rosak, gedung-gedung remuk, dan mayat-mayat bergelimpangan di Banda Acheh.

Baru petang ini aku mendapat khabar dari kedua orang tua dan adik-adikku bahwa mereka sudah mengungsi ke Medan. Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau masih memberikan keluargaku kesempatan untuk berkumpul bersama di dunia ini.

Tiga hari yang meletihkan kuhabiskan di Pusat Kemanusiaan untuk Acheh. Aku dan teman-teman di pusat tersebut berusaha untuk menolong mengkoordinasi bantuan yang dikirim dari Malaysia ke Acheh, baik itu bantuan berupa pakaian, makanan, ubat-ubatan, maupun bantuan sukarelawan.

Kami juga berusaha untuk memberikan informasi tentang keadaan di Banda Acheh setepat mungkin. Sudah puluhan mahasiswa yang mendapat khabar bahwa anggota keluarga mereka menjadi korban bencana. Menyaksikan saat mereka mendengar khabar duka tersebut merupakan satu masa paling menyedihkan dalam hidupku.

Tapi kesibukan di pusat bantuan setidaknya dapat membantuku melupakan kekhuawatiran yang melanda nasib teman-temanku di Banda Acheh.

Aku belum menerima khabar dari Suci dan keluarganya. Begitu juga belum menerima sebarang khabar dari Dhani sekeluarga.

Dhani seharusnya sudah mendengar berita tentang Tsunami ini walaupun dia sedang berada di Hongkong. Dan seharusnya dia sudah menalifonku untuk memberi khabar. Aku sudah berulang kali berusaha menghubungi telifon bimbitnya, tapi usaha tersebut sia-sia saja kerana talifonnya tidak aktif. Hubungan talifon terakhirku dengan Dhani terjadi dua hari sebelum Tsunami, Dhani saat itu mengatakan bahwa dia masih akan berada di Hongkong dalam beberapa hari lagi.

Kulipat sajadah dan telekung dengan perlahan. Air mata masih hangat menetes di pipiku atas doa yang kupanjatkan kepada-Nya.

“Berikan kami kekuatan dalam menghadapi cobaan-Mu, Ya Rabb!” pintaku.

Tiba-tiba lamunanku terhenti oleh deringan talifon. Perlahan, kuambil talifon itu dan kuperhatikan nombor sipemanggil yg tertera.

“Tidak terdaftar…, tapi ini nombor talifon luar…, siape yer?” batinku.

“Assalamu’alaikum.” kataku setelah menekan butang terima.

“Wa’alaikumsalam, Intan. Ini aku, Suci.”

Dan air mata gembira pun kembali menetes dengan derasnya. “Ya Allah, Alhamdulillah! Suci, kamu dimana?” aku bertanya di sela-sela isak tangis.

“Aku di Medan, Ntan. Baru saja sampai. Kami sekeluarga mengungsi ke rumah pamanku di Binjai.” ucapnya lirih dan kemudian terdiam.

Aku masih tersedu perlahan kerana bahagia bahwa Suci selamat dari bencana tersebut. Namun, dalam diam aku merasa Suci seperti ada merahsiakan sesuatu dariku. Entah mengapa, aku merasa takut untuk mendengar kembali dia mengatur kata yg berikutnya. Dia menyembunyikan sesuatu…, aku tahu itu.

“Ntan, ada berita duka yang harus kusampaikan padamu.” Suci memecah ketegangan di antara kami.

“Tentang keluargamu, Ci?” tanyaku sambil berusaha untuk menerima kejadian yang terburuk.

“Bukan, Ntan. Ini tentang Dhani. Dhani tiba dari Hongkong hari Sabtu malam sebelum kejadian bencana itu, Ntan. Aku bertemu dengan orang tuanya tadi pagi di bandara Iskandar Muda. Mereka mengatakan bahwa Dhani belum ditemukan sampai saat ini, dan seseorang sempat melihatnya ikut terseret arus, Ntan.”

“Intan? Halo? Intan, kamu masih mendengarkan aku? Intan!!…”

***

Malaysia, March 2005

Pasir putih yang terhampar luas terasa sejuk di telapak kakiku yang tidak beralas. Aroma pantai pun terasa segar mengalir di pembuluh darahku melalui udara yang kuhirup. Aku berlari-lari kecil berkejaran dengan ombak-ombak yang menghempas di pantai yang indah itu.

Suatu kekuatan di pantai ini membuatku merasa hangat dan bahagia. Matahari pagi, kicau camar, pasir putih yang dingin, suara gelombang yang bergemuruh, desir angin di pepohonan, bahkan tetesan embun dari dedaunan pun seakan membawa makna keceriaan dalam kesendirianku. Sampai saatnya kuterpengun menatap sosok yang berdiri jauh di hadapanku…, “Dhani??” pekikku tidak percaya.

Aku berlari menghampiri Dhani. “Dhani?” teriakku kembali memanggilnya. Namun, aku tidak pernah boleh mendekat walau selangkahpun. Sampai akhirnya aku terjatuh bersimpuh di pasir putih yang dingin itu. Aku mulai menangis, air mata menetes deras di pipiku.

Akhirnya Dhani datang menghampiri dan menggenggam erat tanganku untuk membantuku berdiri. Dia tersenyum, dan kemudian memelukku erat. Pelukannya dingin, sedingin tatap matanya.

“Dhan…, untuk apa kamu bertemu lagi denganku di bulan Juli itu, kalau kamu akhirnya harus pergi secepat ini?” tanyaku. Pertanyaan itulah pula yang selalu kutanyakan pada-Nya dalam setiap sujudku.

“Untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu…, untuk membuktikan bahwa aku menyayangimu…, dan untuk kenangan bahwa kita pernah memiliki 45 menit itu bersama…” jawabnya.

Airmataku kembali mengalir dengan derasnya.

“Tapi aku ingin kita memiliki waktu yang lebih lama dari 45 menit…, Dhan…,” pintaku.

***

Kereta tolak di pusat membeli-belah itu ku sorong perlahan. Seharian aku tidak boleh melupakan mimpiku tentang Dhani malam tadi. Mimpi itu terlalu nyata untuk dikatakan sebagai sebuah mimpi. Aku masih merasa dingin dekapannya saat memelukku erat…, aku juga masih boleh merasakan dingin jemarinya saat menghapus air mata di pipiku…, bahkan aku masih bisa merasakan dingin tatapan mata itu…, saat dia memandangku.

Mimpi itu telah menyedarkan aku akan kekeliruan yang kulakukan selama ini. Tak ada gunanya aku bersedih, Dhani juga pasti tidak ingin melihat aku terus bersedih. Aku harus melanjutkan hidupku dan berbahagia untuknya. Cepat atau lambat aku akan menyusulnya, dan sebelum masa itu tiba aku ingin membuat hidupku lebih bermakna. Lagi pula, Dhani selalu bersamaku disini, dihatiku…, di dalam doa-doaku…,

Aku tersenyum sendiri. “Dhan…,” bisikku dalam hati. “Aku berjanji tak akan bersedih lagi…, tak akan menangis atas kepergianmu lagi. Aku janji akan menjalani hidup ini dengan bahagia. Kamu akan selalu ada di hatiku, Dhan!”

Setelah membayar semua barang perbelanjaan dan mengambil beg di tempat penitipan barang, aku bergegas keluar dari pusat membeli-belah menuju tempat letak kereta. Namun, ketika aku sedang melewati foodcourt yang terletak bersebelahan dengan pusat membeli belah dimana aku berbelanja, seorang wanita bergegas menghampiriku.

Ketergesaan itu membuat orang-orang yang sedang menyantap makan tengahari memperhatikannya. Lelaki yang tadi duduk bersamanya pun bangkit bergegas mengikuti.

Wanita itu sedikit berlari ke arahku dan kemudian langsung memelukku erat. “Intaaan…,” sebutnya sambil menangis di pelukanku.

Sekelibat bayang melintasi fikiranku…, sampai akhirnya aku mengenali wanita itu…, dia adalah saudara perempuan Dhani…, “Kak Dhina? Koq Kak Dhina ada di Malaysia?”

“Dhin…, ayo kita duduk dulu. Orang-orang memperhatikan kita, Dhin.” Lelaki yang tadi bersama Kak Dhina berusaha menenangkannya.

Lelaki itu tersenyum ke arahku dan berkata, “Ayo, Dek, kita duduk dulu di sana,” sambil menunjuk ke arah kerusi tempat mereka tadi duduk.

“Intan…, kenalkan ini suamiku, Randy.” Kak Dhina berkata setelah bisa menguasai kembali emosinya. “Aku ada di Malaysia untuk menemani Randy tugas selama seminggu. Dan aku juga ingin bisa bertemu dengan kamu.”

“Lalu kenapa Kak Dhina tidak menghubungiku saja?” tanyaku hairan. Tentu lebih mudah untuk bertemu denganku jika dia menalifonku terlebih dahulu daripada mengharapkan kejadian seperti ini.

“Aku tidak sanggup, Ntan. Memikirkanmu berarti memikirkan dia yang telah pergi…, sampai sekarang pun kami belum menemukan jenazahnya, Ntan!” Kak Dhina kembali terisak.

Aku hanya diam. Aku tahu aku tak akan sanggup berkata apa-apa, atau air mataku takkan boleh kutahan lagi.

“Dia sengaja kembali dari Hongkong tanpa memberitahumu. Dia berencana datang ke Malaysia hari minggu itu untuk membuat kejutan,” Kak Dhina berkata lirih.

“Malam itu, dia mendatangiku di kamar dan kami mengobrol sampai larut malam. Dia berkata besok pagi dia akan pergi, dan dia ingin aku menyimpan sesuatu yang sangat berharga baginya.” Kak Dhina kini memperhatikanku dengan seksama. Dia membuka tas tangannya dan mengambil sebuah kotak kecil berlapis kain baldu.

“Dia berkata bahwa dia ingin memberikan ini di hari kelulusanmu,” Kak Dhina memberikan kotak itu kepadaku,

“dan sebagai kado tambahan…, dia ingin melamarmu di hari itu…,”

Kugenggam erat kotak kecil itu sambil memejamkan mata…, Ya Allah…, tolong aku!! Aku tak ingin menangis lagi…, setitik mutiara bening jatuh membasahi pipiku. “Makasih, Kak. Kado ini akan menggantikan dirinya di hari kelulusanku nanti. Berarti, dia menepati janjinya untuk hadir di hari itu walaupun kami telah dipisahkan oleh kematian. Dan tak ada kado yang lebih indah yang dapat kuterima selain mendengarkan keinginannya untuk melamarku…”
-selesai-

Kupersembahkan tulisan ini untuk ‘Kau Yang Terkasih’…,
kerana…,
Tak seorang pun bisa menggantikan tempatmu di hatiku…,
Namun kutahu…,
Masih ada cinta yang indah…,
Untuk seseorang yang akan menemaniku sampai ajal menjelang…,
Kau istirahatlah sekarang…, jangan lagi kaurisaukan aku…,
Ku kan bahagia dan tersenyum dalam hidupku…,

-Cie-

3 Respons

  1. sedihnya…
    klu apa y dceritakn btul tjadi, tabahkan hati.. stiap kjadian msti ada hikmahnya

  2. Mmg sdeh.. Perpisahan sememang nye menyakitkn.. Namun perpisahan adalah jnji kpd setiap pertemuan..

  3. sedihnye cite ni … kalau ade org yg ditimpe nasib seperti di dlm cite tu , tabahkanlah hati anda . ye . oh ya , lagi cite ni memang best .

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: